PravadaNews – Kebutuhan air di lahan pertanian semakin mendesak ketika musim kemarau diperkirakan memuncak pada Agustus dan berlanjut hingga September 2026.
Bagi sektor pangan, periode tersebut membuat keberlangsungan sawah dan kebun bergantung pada kemampuan pengairan.
Kondisi itu datang saat irigasi perpompaan baru terealisasi 5.973 unit dari target 17.400 unit hingga akhir Juli 2026. Sehingga, penyediaan air masih terus dikejar di tengah musim kering.
Menanggapi hal ini, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan), Muhammad Agung Sunusi mengatakan, pengamanan produksi diarahkan melalui beberapa langkah sebelum kekeringan mengganggu pertanaman.
“Di tahun 2026, tentunya ada beberapa langkah antisipasi, mitigasi, dan adaptasi yang harus kita lakukan,” ujar Agung dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Minggu (15/8/2026).
Salah satu langkah awal dilakukan dengan memetakan wilayah yang berulang kali menghadapi kekeringan, kemudian menggunakan sistem peringatan dini untuk menentukan kebutuhan penanganan di lapangan.
Pengelolaan air juga diperkuat melalui perbaikan jaringan irigasi dan pompanisasi, sementara pola tanam diarahkan mengikuti kondisi iklim serta ketersediaan air di setiap daerah.
“Puncak kemarau diperkirakan pada bulan Agustus 2026, lalu masuk ke puncak kedua itu pada bulan September 2026,” lanjut Agung.
Ancaman tersebut sejalan dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut 48,84% wilayah daratan mencapai puncak kemarau pada Agustus dan 25,41% lainnya pada September.
Tekanan musim kering semakin terlihat pada Dasarian I Agustus setelah curah hujan rendah mendominasi 90,79% wilayah dan 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki kemarau. Data itu dilansir dari prakiraan mingguan BMKG yang diperbarui pada 14 Agustus 2026.
Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan pertemuan musim kemarau dengan El Niño dapat membuat periode kering berlangsung lebih berat dibandingkan kondisi klimatologis biasanya.
“Musim kemarau akan lebih panjang dan lebih kering dari rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir,” jelas Faisal, Kamis (2/7), sebagaimana dilansir dari BMKG.
Adapun tekanan terhadap pasokan air berlangsung ketika Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi padi Juli–September 2026 mencapai 16,25 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), turun 0,90% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.















