PravadaNews – Target swasembada garam 2027 masih menghadapi tantangan ketika produksi dalam negeri perlu diperkuat, sehingga pemerintah menggandeng dua badan usaha milik negara (BUMN) untuk membangun sentra garam di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Diketahui, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng PT Garam (Persero) dan PT Nindya Karya (Persero) dalam pengembangan K-SIGN Rote Ndao. Kerja sama tersebut mencakup pembangunan, pengembangan, pendanaan, hingga pengelolaan kawasan.
Kolaborasi dua BUMN itu menjadi langkah pemerintah memperkuat industri garam yang selama ini masih menghadapi tantangan produksi dan pengelolaan kawasan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara mengatakan, sinergi BUMN diperlukan untuk mempercepat pengembangan industri garam nasional.
Baginya, swasembada garam tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi, tapi membutuhkan pengelolaan kawasan yang mampu menjaga produktivitas secara berkelanjutan.
“Kolaborasi ini harus segera diterjemahkan menjadi langkah konkret di lapangan. Dengan memadukan kapasitas dan sumber daya masing-masing BUMN, kita dapat mempercepat pengembangan industri garam sekaligus menciptakan manfaat dan nilai tambah yang lebih besar,” ujar Koswara dalam keterangan resmi, Jumat (28/8/2026).
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Garam Abraham Mose mengungkapkan, perusahaan berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi melalui pengelolaan industri garam yang lebih profesional.
“PT Garam berkomitmen meningkatkan kapasitas dan produktivitas sekaligus memperkuat kolaborasi strategis dengan para mitra. Sinergi ini diharapkan dapat mendorong pengelolaan industri garam yang lebih profesional dan berdaya saing serta memenuhi kebutuhan garam nasional,” ucap Abraham.
Dalam proyek tersebut, PT Nindya Karya menjalankan pembangunan K-SIGN melalui pekerjaan rancang bangun kawasan. Infrastruktur itu menjadi bagian dari kesiapan sentra produksi garam di Rote Ndao.
K-SIGN Rote Ndao menjadi salah satu proyek yang diuji pemerintah untuk mencapai swasembada garam 2027. Keberhasilan kawasan itu akan ditentukan oleh kemampuan mengubah pembangunan fisik menjadi produksi garam yang berkelanjutan.















