Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Beranda / Ekonomi / IHSG Berpeluang Lanjut Menguat

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat

PravadaNews – Optimisme kembali mewarnai lantai bursa pada Jumat (18/9/2026) pagi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung melaju pada awal perdagangan dengan menguat 50,14 poin atau 0,78 persen ke level 6.512,57.

Penguatan ini melanjutkan tren positif sehari sebelumnya, ketika IHSG ditutup naik 0,4 persen di level 6.462,43.

Momentum tersebut turut membuka ruang bagi pelaku pasar untuk menatap perdagangan hari ini dengan lebih percaya diri.

Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan, di tengah dinamika pasar yang terus menjadi perhatian investor.

“IHSG masih bertahan di atas level 6.400 dan indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di area oversold. Sehingga IHSG diperkirakan bergerak cenderung menguat menguji level 6.500 hingga 6.550 pada perdagangan Jumat,” sebut Tim Analis Phintraco Sekuritas.

Tim menyebut koreksi harga minyak dunia juga diperkirakan menjadi salah satu faktor positif bagi pergerakan pasar. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen eksternal yang dicermati investor pada perdagangan hari ini.

Selain sentimen eksternal, pasar juga mencermati pembahasan revisi Undang-Undang Keuangan Negara oleh DPR RI. Salah satu pembahasan tersebut berkaitan dengan batas maksimal defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jika batas defisit tersebut dinaikkan dari level tiga persen PDB, dampak positif yang mungkin terjadi adalah memberi fleksibilitas.

Fleksibilitas tersebut dapat digunakan pemerintah untuk membiayai program-program pemerintah.

Namun, perubahan batas defisit juga memiliki sejumlah risiko terhadap kondisi fiskal dan pasar keuangan. Risiko tersebut, lanjutnya, antara lain kenaikan utang dan beban bunga pemerintah untuk membiayai tambahan defisit.

Risiko yang perlu diperhatikan di antaranya potensi kenaikan utang dan beban bunga pemerintah untuk membiayai tambahan defisit.

Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada kurang terserapnya SBN yang diterbitkan pemerintah dan obligasi korporasi yang diterbitkan swasta.

Selain itu, investor global dan lembaga pemeringkat internasional turut mencermati kondisi disiplin fiskal Indonesia.

Menurut Tim, perubahan kebijakan defisit berpotensi memengaruhi peringkat kredit, aliran modal asing, serta nilai tukar rupiah.

Investor global dan lembaga pemeringkat internasional dapat menganggap disiplin fiskal Indonesia melemah, sehingga berpotensi memicu penurunan peringkat kredit.

Kondisi tersebut juga berpotensi memicu capital outflow dan pelemahan rupiah.

Indonesia sebelumnya pernah menaikkan batas defisit APBN di atas tiga persen terhadap PDB.

Kebijakan tersebut diterapkan pada 2020 hingga 2022 dalam kondisi luar biasa akibat pandemi Covid-19.

Sementara itu, rata-rata defisit fiskal negara-negara ASEAN berada pada kisaran tiga hingga 4,2 persen terhadap PDB pada 2026.

Perkembangan kebijakan fiskal tersebut menjadi salah satu sentimen yang dicermati investor terhadap pergerakan IHSG

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *