Ilustrasi uang Rupiah dan Dolar AS. (Foto: Istimewa)

Beranda / Ekonomi / Rupiah Melemah Akibat Tekanan Global Kuat

Rupiah Melemah Akibat Tekanan Global Kuat

PravadaNews – Rupiah kembali menghadapi tekanan pada awal pekan setelah mencatat pelemahan pada perdagangan akhir pekan lalu.

Tren tersebut berlanjut dalam pembukaan perdagangan hari ini, ketika mata uang Garuda kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,18 persen atau 32 poin ke level Rp17.790 per dolar AS.

Pelemahan ini meneruskan penurunan pada penutupan perdagangan Jumat, saat rupiah terkoreksi 0,32 persen ke posisi Rp17.753 per dolar AS.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut memasuki pekan baru, sejalan dengan prakiraan sejumlah analis yang sebelumnya memperkirakan mata uang Garuda masih akan menghadapi tekanan terhadap dolar AS.

“Hari ini rupiah diprakirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS,” kata Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, Senin (21/9/2026).

Tekanan terhadap rupiah turut datang dari pergerakan pasar keuangan global, terutama kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat yang hampir menyentuh level 5 persen.

Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena berpengaruh terhadap daya tarik aset berdenominasi dolar AS.

Analis menyebut kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap kebijakan moneter domestik.

“Hal tersebut juga akan memberikan tekanan pada Bank Indonesia menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI hari Rabu lusa,” ucap Lukman.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, Lukman memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan hari ini.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau relatif stabil di level 100,26.

Pergerakan indeks tersebut menjadi salah satu indikator yang turut dicermati pasar dalam melihat arah pergerakan mata uang utama, termasuk rupiah.

Dikesempatan yang sama, Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto juga mencermati keputusan suku bunga the Fed dan dampaknya ke Indonesia.

“Pekan ini, perhatian bergeser dari keputusan the Fed ke dampaknya terhadap Indonesia, terutama ke rupiah dan respons Bank Indonesia,” ucap Rully.

Dia mencermati pergerakan rupiah yang kembali ke kisaran Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS.

“Kami melihat stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor utama yang membatasi ruang kebijakan BI,” ujarnya.

Pasar juga mengamati pergerakan imbal hasil obligasi global dan aliran modal asing.

Tekanan suku bunga global yang tinggi bukan hanya mempengaruhi pasar uang, juga pasar modal.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *