PravadaNews – Kekhawatiran masyarakat terhadap sulitnya mendapatkan beras premium kemasan 5 kilogram (kg) di sejumlah tempat membuat sebagian konsumen mulai mencari alternatif pembelian untuk memastikan kebutuhan pangan rumah tangga tetap terpenuhi.
Fenomena tersebut muncul ketika harga beras masih menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat.
Menanggapi hal ini, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansah menilai kondisi itu berkaitan dengan tata kelola distribusi dan pengawasan pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan antarwilayah.
Menurutnya, daerah dengan produksi beras tinggi dan wilayah yang mengalami keterbatasan produksi membutuhkan pengaturan distribusi yang baik agar perbedaan pasokan tidak langsung berdampak terhadap harga di tingkat masyarakat.
“Kekhawatiran masyarakat akan adanya bencana atau kondisi politik yang kurang kondusif dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk menimbun demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar,” ujar Trubus saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).
Trubus mengatakan, pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap rantai perdagangan beras, termasuk memastikan tidak terdapat praktik penimbunan yang dapat memperbesar tekanan harga ketika masyarakat mulai melakukan pembelian dalam jumlah besar.
Selain pengawasan pasar, Trubus menyebut koordinasi antarinstansi pangan seperti Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Pangan Nasional (Bapanas), Perum Bulog, dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) diperlukan agar kebijakan stabilisasi pasokan berjalan lebih terintegrasi.
Dari sisi perilaku konsumen, Guru Besar Perilaku Konsumen IPB University Megawati Simanjuntak mengungkapkan informasi mengenai kelangkaan barang dapat memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan pembelian.
Megawati menjelaskan, ketika konsumen mendengar produk tertentu mulai sulit ditemukan, muncul kekhawatiran barang akan habis sehingga sebagian masyarakat terdorong membeli lebih banyak dari kebutuhan normal.
“Ketika kemasan 5 kg mulai langka, masyarakat pasti langsung merasa khawatir. Apalagi kalau masyarakat sudah mendengar barang mulai susah dicari, biasanya langsung terpikir untuk membeli atau menyetok lebih banyak,” ujar Megawati dalam keterangannya, Sabtu (19/9).
Beras kemasan 5 kg, baginya, menjadi pilihan banyak rumah tangga karena lebih praktis untuk disimpan dan memiliki variasi merek yang membuat konsumen memiliki preferensi tertentu dalam memilih produk.
Namun, kondisi tersebut tidak selalu membuat konsumen berhenti membeli ketika produk yang biasa dikonsumsi sulit ditemukan, karena sebagian masyarakat masih memiliki pilihan lain seperti berpindah ukuran kemasan atau memilih produk alternatif.
Lebih lanjut, Pakar ini mengimbau masyarakat tidak perlu mengambil keputusan pembelian secara berlebihan karena informasi mengenai kelangkaan perlu dilihat berdasarkan kondisi pasokan yang sebenarnya.
“Masyarakat tidak perlu terlalu panik atau ikut-ikutan menimbun. Beli sesuai kebutuhan saja. Kalau merek yang biasa dibeli tidak tersedia, bisa mempertimbangkan alternatif yang kualitas dan harganya masih sesuai,” pungkas Megawati.














