PravadaNews – Setelah sempat tertekan pada perdagangan sebelumnya, rupiah membuka perdagangan hari ini dengan napas yang lebih lega.
Mata uang Garuda pada Rabu (23/9/2026) menguat 65 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.819 per dolar AS, berbalik dari penutupan Selasa (22/9) yang melemah 0,21 persen di posisi Rp17.884 per dolar AS.
Analis Pasar Uang MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana sebelumnya telah memproyeksikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
“Untuk rupiah sendiri, kami mencermati ada peluang penguatan dalam jangka pendek,” kata Herditya.
Menurut Herditya, nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak di rentang Rp17.706-Rp17.830 per dolar AS.
Pelaku pasar hari ini akan mencermati pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Herditya mengatakan, konsensus memperkirakan Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.
Prakiraan senada disampaikan oleh Analis Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa.
Pelaku pasar akan menanti keputusan tersebut untuk melihat arah kebijakan moneter Bank Indonesia dan dampaknya terhadap pergerakan rupiah.
“Kami memperkirakan BI akan menahan suku bunga, didukung nilai tukar rupiah yang masih terjaga di sekitar Rp17.800 per dolar AS,” ucap Jessica.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia masih solid sebesar USD146,5 miliar.
Demikian pula aliran masuk modal asing melalui Surat Berharga Negara (SBN) yang tetap terjaga.
Spread antara Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI ) tenor 12 bulan dengan BI Rate juga menyempit.
Yakni, dari 209 basis poin menjadi menjadi 118 basis poin dari 209 bps saat kenaikan terakhir.
“Sehingga BI memiliki ruang mempertahankan arah kebijakan pro-growth (pro pertumbuhan ekonomi). Meskipun harga minyak mentah, utamanya harga minyak Brent kembali di atas USD100 per barel,” ujar Jessica.















