PravadaNews – Bank Indonesia (BI) telah menambah likuiditas ke sistem keuangan nasional sekitar Rp 387 triliun sepanjang 2026. Tambahan likuiditas tersebut dilakukan melalui instrumen swap dan repo.
Gubernur BI, Destry Damayanti mengatakan, cara tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kondisi likuiditas perekonomian agar tetap memadai, terutama di tengah tekanan pasar keuangan global.
“Ekspansi likuiditas juga diperkuat melalui instrumen efek swap dan repo sehingga secara kumulatif tambahan likuiditas melalui kedua instrumen tersebut telah mencapai sekitar Rp 387 triliun sepanjang tahun ini,” ujar Destry di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Meskipun begitu, Destry menyebut, kondisi likuiditas secara makro saat ini masih terkendali. Hal itu terlihat dari suku bunga pasar uang antarbank overnight yang sebelumnya sempat mencapai 6,61 persen pada Juni 2026, kemudian turun menjadi 5,91 persen.
“Hal ini juga sejalan dengan ekspansi likuiditas yang terus dilakukan dan diperkuat oleh Bank Indonesia,” kata Destry.
Selain melalui swap dan repo, BI juga terus mendorong penurunan yield dan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Yield SRBI tenor 12 bulan saat ini berada di level 6,76 persen, lebih rendah dibandingkan level tertingginya yang mencapai 7,74 persen.
Sementara outstanding SRBI telah turun dari Rp 1.096 triliun menjadi Rp 1.013 triliun. Destry menyebut penurunan itu memberikan ruang likuiditas yang lebih besar bagi perekonomian.
Selain itu, pihak BI juga mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor perekonomian.
Melalui kebijakan tersebut, Bl memberikan insentif kepada bank yang menyalurkan kredit sesuai dengan ketentuan. Sebaliknya, bank yang menempatkan dana dalam bentuk surat-surat berharga dalam porsi tertentu tidak memperoleh insentif tambahan.
Adapun bank yang menempatkan dana lebih dari 19 persen dalam bentuk surat berharga, baik SBN maupun SRBI, tidak mendapatkan insentif. Sementara bank yang memiliki surat berharga di bawah 19 persen dan menyalurkan kredit dapat memperoleh tambahan insentif.
“Bank-bank yang memiliki SSB di bawah 19 persen dan dia menyalurkan kredit maka kita akan berikan insentif 2 persen sehingga kalau mereka melakukan itu akan mendapatkan total insentif dari kebijakan KLM ini sebesar 6 persen,” kata Destry.
Penguatan likuiditas tersebut menjadi bagian dari bauran kebijakan BI yang mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.
Di sisi domestik, pihak Bl memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9 persen hingga 5,7 persen pada 2026. Pertumbuhan kemudian diproyeksikan meningkat menjadi 5,2 persen hingga 6 persen pada 2027.
BI juga menilai peningkatan investasi swasta menjadi salah satu tantangan yang perlu diperkuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi ke depan.














