Kepala Center of Digital Economy and SMEs Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Izzudin Al Farras Adha. (Foto: Dok. Tangkapan Layar INDEF Economics)

Beranda / Ekonomi / INDEF Soroti Risiko di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5%

INDEF Soroti Risiko di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5%

PravadaNews – Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari pada September 2026 menjadi perhatian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29% pada triwulan II 2026.

Hal ini diungkap Kepala Center of Digital Economy and SMEs INDEF, Izzudin Al Farras Adha, menilai pertumbuhan ekonomi yang bertahan di kisaran 5% masih rapuh.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun terakhir relatif stabil, meskipun sempat berada di bawah 5% pada awal 2025.

“Jadi, angka yang stabil itu memang bisa kita lihat dari berbagai sisi. Tetapi, kami melihat bahwa angka ini masih rapuh,” jelas Izzudin dalam diskusi INDEF, Minggu (11/10/2026). 

Salah satu risiko yang menjadi perhatian Izzudin yakni kenaikan inflasi secara bertahap, terutama jika tidak diikuti peningkatan upah pekerja.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan September 2026 mencapai 3,28%, meningkat dari 3,19% pada Agustus, sedangkan inflasi bulanan September tercatat sebesar 0,30%.

“Jadi, ini hal yang harus diantisipasi dan diwaspadai oleh pemerintah karena inflasi yang secara perlahan naik tanpa diiringi dengan kenaikan upah itu akan menggerus upah riil dan kemudian akhirnya membebani daya beli masyarakat,” ujar Pengamat tersebut.

Di sisi lain, BPS mencatat konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% secara tahunan pada triwulan II 2026, tertinggi dibandingkan komponen pengeluaran lainnya.

Untuk memperkuat permintaan masyarakat, Izzudin mendorong pengalihan sebagian anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) ke belanja yang lebih produktif. INDEF juga mengusulkan penurunan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memberikan gambaran mengenai penilaian masyarakat terhadap perekonomian melalui Survei Konsumen September 2026 yang dirilis pada Kamis (8/10).

“Survei Konsumen Bank Indonesia pada September 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga,” demikian keterangan resmi BI.

Berdasarkan survei ini, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat sebesar 118,1, masih berada di atas angka 100 yang menunjukkan kondisi optimistis.

Namun, Indeks Kondisi Ekonomi kini (IKE) turun dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September, meskipun masih berada di zona optimistis. Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) meningkat dari 127,6 menjadi 128,7.

Di sisi lain, dalam Survei Penjualan Eceran yang dirilis Jumat (9/10), BI memperkirakan penjualan September tumbuh 1,4% secara tahunan, tapi turun 2,3% secara bulanan, terutama akibat penurunan penjualan kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *