Ilustrasi petani padi. (Foto: Dok. Badan Pangan Nasional)

Beranda / Ekonomi / Kapan Musim Tanam dan Panen Padi Dimulai?

Kapan Musim Tanam dan Panen Padi Dimulai?

PravadaNews – Musim tanam padi di Indonesia umumnya dimulai pada Oktober, ketika musim hujan tiba. Sedangkan, panen pertama berlangsung mulai Februari dengan puncaknya pada Maret hingga April.

Namun, waktu tanam dan panen tidak selalu sama di setiap daerah, karena petani harus menyesuaikan curah hujan, ketersediaan air, serta jenis padi yang digunakan.

Berdasarkan kalender pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), musim tanam pertama (MT 1) berlangsung sekitar Oktober hingga Januari. Periode tersebut memanfaatkan ketersediaan air pada musim hujan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Sebelum menanam, petani terlebih dahulu membajak dan meratakan tanah agar lahan siap digunakan. Tahap persiapan juga mencakup pengaturan saluran air untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

Setelah lahan disiapkan, petani menyemai benih hingga tumbuh menjadi bibit. Pada sistem tanam pindah, bibit itu kemudian dipindahkan ke sawah untuk melanjutkan pertumbuhan.

Selama masa pertumbuhan, petani mengatur pengairan, memberikan pupuk, serta mengendalikan gulma dan hama. Perawatan berlangsung hingga tanaman membentuk malai dan menghasilkan bulir padi.

Lamanya pertumbuhan bergantung pada varietas yang ditanam, dengan banyak varietas unggul dapat dipanen dalam waktu sekitar tiga hingga empat bulan. Sebagai contoh, varietas Inpari 48 Blas memiliki umur tanaman sekitar 121 hari berdasarkan penjelasan Kementan.

Menjelang panen, petani memperhatikan perubahan warna gabah untuk memastikan tanaman telah matang. Berdasarkan pedoman Kementan, waktu panen optimal ditandai ketika sekitar 90-95% gabah pada malai telah menguning.

Padi yang matang kemudian dipotong menggunakan sabit atau mesin pemanen gabungan (combine harvester). Gabah hasil panen selanjutnya dikeringkan hingga kadar air sekitar 14% sebelum disimpan atau digiling menjadi beras.

Setelah panen pertama, sebagian petani kembali menanam pada MT 2 yang berlangsung Februari hingga Mei, disusul MT 3 pada Juni hingga September. Hasil kedua musim tanam ini dipanen beberapa bulan kemudian, bergantung pada umur tanaman dan ketersediaan air.

Siklus penanaman kembali tersebut turut menjadi perhatian Kementan di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, pada September 2026 lalu. 

Saat itu, sekitar 90% pertanaman padi di wilayah yang ditinjau telah mendekati masa panen.

“Begitu panen selesai, langsung lakukan pengolahan tanah. Kita siapkan kembali pertanamannya sehingga pada bulan Oktober lahan sudah bisa dimanfaatkan untuk pertanaman berikutnya,” ujar Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian dan Perkebunan, I Ketut Kariyasa, dilansir dari laman resmi Kementan, Minggu (11/10/2026). 

Perbedaan waktu panen juga terlihat dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Luas panen nasional pada Maret 2026 mencapai 1,61 juta hektare, sedangkan potensi luas panen pada Oktober diperkirakan sebesar 725.927 hektare.

Secara keseluruhan, BPS mencatat luas panen padi sepanjang Januari hingga Agustus 2026 mencapai 8,32 juta hektare, meningkat 0,11% dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 8,31 juta hektare.

“Produksi padi dari Januari sampai dengan Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton GKG atau naik 0,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2025,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, Kamis (1/10).

Sebagai informasi, Gabah kering giling (GKG) merupakan gabah yang telah dikeringkan hingga memenuhi standar untuk penggilingan. Dari produksi ini, BPS menghitung jumlah beras untuk konsumsi masyarakat mencapai 25,29 juta ton pada Januari hingga Agustus 2026.

Di sisi lain, panen masih diperkirakan berlangsung pada September hingga November 2026. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA), potensi luas panen selama tiga bulan tersebut mencapai 2,23 juta hektare dengan produksi sekitar 12,24 juta ton GKG.

Khusus Oktober, BPS memperkirakan luas panen mencapai 126.488 hektare di Jawa Barat, 86.720 hektare di Jawa Timur, dan 73.265 hektare di Jawa Tengah. Angka itu masih berupa potensi yang dapat berubah akibat kondisi cuaca, gangguan tanaman, dan pergeseran waktu panen.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *