Ilustrasi gedung Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: AI)

Beranda / Ekonomi / IHSG Anjlok 1,94 Persen Siang Ini

IHSG Anjlok 1,94 Persen Siang Ini

PravadaNews – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Senin (12/10/2026), setelah sempat membuka sesi dengan penguatan dan membawa harapan positif bagi pelaku pasar.

Hingga penutupan sesi I, IHSG terperosok 117,97 poin atau 1,94 persen ke level 5.975,78, bahkan sempat menyentuh titik terendah di posisi 5.971,41.

Pelemahan tajam tersebut berbanding terbalik dengan pergerakan awal perdagangan ketika indeks menguat 15,56 poin ke level 6.109,32, serta capaian akhir pekan sebelumnya yang mencatatkan kenaikan 1,04 persen ke posisi 6.093.

Di tengah perubahan arah pasar yang cukup signifikan, Tim Analis Pasar Modal Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam fase konsolidasi sepanjang pekan ini, sehingga investor perlu mencermati dinamika pasar dan berbagai sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan indeks.

“Secara teknikal IHSG diprakirakan akan bergerak konsolidasi pada kisaran 6.000-6.215 pada pekan ini. Namun, perlu diwaspadai dampak kenaikan harga minyak dan perluasan cakupan saham High Shareholding Concentration (HSC),” sebut Tim Analis Pasar Modal Phintraco Sekuritas, Senin (12/10/2026).

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) akan melengkapi data kepemilikan saham.

Data tersebut mencakup 39 klasifikasi dan tipe investor, termasuk informasi kepemilikan lokal dan asing.

BEI dan KSEI juga memperluas cakupan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Perluasan tersebut mencakup saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan saham yang masuk dalam daftar HSC.

Hal ini berpotensi meningkatkan tekanan jual terhadap saham yang masuk dalam daftar itu dalam jangka pendek.

Selain perkembangan domestik, pelaku pasar juga mencermati potensi kenaikan harga minyak mentah dunia.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang bandara di Arab Saudi.

Perseteruan antara Iran dan Amerika Serikat juga kembali meruncing.

Kondisi tersebut terjadi ketika peluang perundingan damai masih belum menunjukkan perkembangan berarti.

Harga minyak Brent diprakirakan bergerak pada kisaran USD103,90 hingga USD105 per barel.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan berada di rentang USD91,23 hingga USD92 per barel.

Dari Amerika Serikat, Presiden Donald Trump menyatakan Rusia setuju memasok bahan bakar diesel ke pasar AS dan global.

Pasokan tersebut diharapkan dapat meredakan harga solar yang telah memicu tekanan inflasi.

Sentimen ekonomi AS juga dipengaruhi penurunan indeks sentimen konsumen University of Michigan.

Berdasarkan estimasi awal, indeks tersebut turun menjadi 46,3 pada Oktober 2026, terendah sejak Mei 2026.

Sementara itu, pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia berlangsung di Bangkok pada 12–18 Oktober 2026.

“Pertemuan berlangsung di tengah situasi tingginya biaya energi dan utang publik, pasar obligasi yang tidak stabil, serta kenaikan suku bunga,” sebut Tim Phintraco lagi.

Pelaku pasar juga mencermati pidato para pejabat bank sentral dunia. IMF dijadwalkan merilis World Economic Outlook terbaru pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Selain itu, data inflasi konsumen dan produsen AS untuk triwulan III 2026 akan dirilis pekan ini.

Data tersebut menjadi perhatian pelaku pasar dalam memperkirakan arah kebijakan ekonomi dan pergerakan IHSG selanjutnya.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *