PravadaNews – Produksi padi Indonesia diperkirakan terus melemah menjelang akhir 2026. Kondisi ini menjadi perhatian karena perubahan luas panen dan produksi padi berkaitan erat dengan ketersediaan gabah sebagai bahan baku beras.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Kerangka Sampel Area (KSA) dan Survei Ubinan menunjukkan penurunan pada sejumlah indikator produksi padi dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada Agustus 2026, produksi padi diperkirakan mencapai 5,46 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 0,17 juta ton atau 2,94 persen dibandingkan Agustus 2025.
Penurunan diproyeksikan berlanjut hingga November 2026, ketika luas panen diperkirakan hanya 0,50 juta hektare dan produksi padi sebesar 2,84 juta ton GKG.
Dibandingkan September 2026, luas panen tersebut turun 50 persen, sedangkan produksi turun 47,5 persen. Secara kumulatif Januari–November 2026, luas panen diperkirakan turun 2,98 persen dan produksi turun 2,82 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan produksi pada akhir tahun perlu dicermati, terutama karena penurunan luas panen berjalan bersamaan dengan penurunan produksi.
Meski demikian, angka untuk 2026 masih berupa angka sementara atau potensi, sehingga bukan merupakan hasil akhir. Perkembangan realisasi panen dan produksi pada bulan-bulan berikutnya akan menjadi penentu untuk melihat seberapa besar penurunan yang benar-benar terjadi.















