Ilustrasi padi siap panen. (Foro: Dok. Kementerian Pertanian)

Beranda / Ekonomi / Luas Panen Padi Akhir Tahun Diproyeksi Menyusut

Luas Panen Padi Akhir Tahun Diproyeksi Menyusut

PravadaNews – Berkurangnya lahan yang masih ditanami padi pada September 2026 diikuti proyeksi penyusutan luas panen nasional hingga akhir tahun.

Hasil pengamatan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan lahan yang sedang ditanami padi, sementara lahan yang dibiarkan atau ditanami komoditas lain justru meningkat.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kondisi tersebut menjadi dasar perkiraan luas panen sepanjang Oktober hingga Desember 2026 melalui survei Kerangka Sampel Area (KSA).

“Sementara itu, potensi luas panen padi pada kondisi Oktober sampai dengan Desember 2026 diperkirakan mencapai 1,54 juta hektare atau mengalami penurunan seluas 0,33 juta hektare atau menurun sebesar 17,75 persen dibandingkan dengan periode yang sama satu tahun sebelumnya,” kata Ateng dalam konferensi pers BPS, di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan hasil survei KSA, hanya 20% lahan yang diamati pada September 2026 masih ditanami padi atau berada dalam fase standing crop. Sementara itu, sebanyak 25,74% lahan sedang dibiarkan, sedangkan 34,81% lainnya ditanami komoditas selain padi.

Ateng menjelaskan, proporsi lahan yang masih ditanami padi ini menurun dibandingkan Agustus 2026 maupun September 2025. Sebaliknya, lahan yang dibiarkan dan ditanami selain padi mengalami peningkatan.

Penurunan tersebut juga terlihat jika dibandingkan dengan kondisi September 2023 saat terjadi fenomena El Nino, ketika proporsi lahan yang masih ditanami padi mencapai 23,10%.

Bahkan, pada September 2021, 2022, 2024, dan 2025, proporsi lahan yang masih ditanami padi berada pada kisaran 24,67 hingga 26,46 persen.

Menurut Ateng, kondisi tanaman pada September dapat menggambarkan potensi panen tiga bulan berikutnya. Tanaman yang mulai membentuk bulir umumnya dipanen satu bulan kemudian, sedangkan tanaman yang masih dalam tahap pertumbuhan membutuhkan sekitar dua hingga tiga bulan.

Adapun penurunan luas panen sudah terlihat pada September 2026 yang tercatat sebesar 0,91 juta hektare, turun 19,40% dibandingkan September 2025 sebesar 1,13 juta hektare.

Dengan perkembangan itu, luas panen padi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 9,24 juta hektare atau berkurang 2,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penyusutan luas panen diperkirakan berlanjut hingga Desember dan diikuti penurunan produksi padi menjadi 8,69 juta ton gabah kering giling (GKG), atau turun 16,30% dibandingkan tiga bulan terakhir 2025.

Meski demikian, sejumlah daerah masih memiliki potensi panen relatif besar, terutama Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Beberapa wilayah ini meliputi Indramayu, Subang, Karawang, Sragen, Ngawi, Banyuwangi, dan Jember.

Namun, Ateng mengingatkan perkiraan luas panen tersebut belum bersifat final karena masih bergantung pada kondisi pertanaman, termasuk serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen oleh petani.

“Sebagai catatan kami, seperti biasa kami sampaikan kepada teman-teman media, bahwa angka potensi masih dapat berubah,” ujar Ateng.

Di tengah kondisi itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat dari biasanya pada 529 zona musim (ZOM) atau mencakup 61,08% daratan Indonesia.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan dampak lanjutan El Nino dan masuknya musim hujan secara bertahap perlu diperhatikan dalam menentukan waktu tanam serta mengelola ketersediaan air bagi pertanian.

“Informasi iklim perlu menjadi dasar penentuan waktu tanam, pengelolaan air, dan perlindungan produksi pangan,” ujar Faisal dalam keterangan resmi BMKG, Selasa (27/10).

BMKG juga mencatat 1.707 titik mengalami hari tanpa hujan berkategori ekstrem panjang. Kondisi itu menjadi perhatian dalam menjaga pasokan air, terutama bagi petani di daerah penghasil pangan yang masih menghadapi kekeringan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *