PravadaNews – Pemerintah menargetkan peningkatan produktivitas padi hingga 10–11 ton per hektare melalui penerapan sistem Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS). Program itu disebut-sebut menjadi cara untuk meningkatkan hasil panen sekaligus produksi beras nasional.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Alim Setiawan Slamet mengatakan, penerapan sistem itu disebut sudah mulai memperlihatkan perkembangannya, deseperti di Desa Jatilor, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Dari target pengembangan seluas 7.500 hektare, sekitar 3.500 hektare di antaranya telah ditanami.
“Alhamdulillah, kita bisa melihat pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan. Petani juga mendukung penerapan program ini bersama pemerintah daerah dan dinas terkait. Harapannya, produktivitas bisa meningkat hingga dua kali lipat, minimal mencapai 10–11 ton per hektare,” ujar Alim dalam keterangannya, dikutip Sabtu (7/11/2026).
Adapun PM-AAS sendiri, kata Alim, merupakan sistem budidaya padi intensif berbasis teknologi tinggi yang telah diperkenalkan Kementan selama dua tahun terakhir. Program tersebut dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani melalui penerapan metode budidaya yang lebih modern.
Alim menjelaskan, peningkatan produktivitas menjadi salah satu indikator penting dalam mengukur keberhasilan penerapan sistem tersebut. Oleh karena itu, pemerintah memastikan akan terus mengawal perkembangan tanaman hingga memasuki masa panen.
“Tentu kita berharap produktivitasnya minimal 10 ton per hektare, bahkan lebih tinggi dibandingkan pola budidaya reguler,” jelas Alim.
Secara nasional, Alim menyebut pemerintah menargetkan pengembangan perluasan areal tanam mencapai 1 juta hektare. Penerapan PM-AAS di Grobogan diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pengembangan sistem budidaya modern untuk mendorong peningkatan produksi padi.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, Solikun, menyebut, perkembangan tanaman padi di lokasi penerapan PM-AAS mulai menarik perhatian kelompok tani dari wilayah lain. Pasalnya, sejumlah petani ada yang datang langsung untuk mempelajari metode budidaya tersebut meskipun tanaman masih berada dalam fase vegetatif.
“Meskipun tanaman masih dalam fase vegetatif, sudah banyak kelompok tani dari wilayah lain di Kabupaten Grobogan yang datang untuk melihat langsung perkembangannya. Salah satunya kelompok tani dari Desa Tanjungharjo, Kecamatan Ngaringan, yang datang bersama penyuluh untuk belajar di sini,” kata Solikun.
Solikun menjelaskan, produktivitas padi di wilayah tersebut pada musim tanam sebelumnya tercatat mencapai 6,7 ton per hektare pada musim tanam pertama (MT1) dan 5,97 ton per hektare pada musim tanam kedua (MT2). Angka tersebut menjadi gambaran hasil panen sebelum penerapan sistem PM-AAS yang saat ini masih dalam tahap pertumbuhan.
Meski demikian, penerapan pola tanam yang lebih rapat juga menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya serangan hama tikus. Kondisi tersebut membuat pengawasan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman perlu dilakukan secara lebih intensif.
“Untuk kendala utama saat ini adalah hama tikus. Karena pertanamannya lebih rapat, pengendalian harus dilakukan secara intensif. Kami juga merencanakan pembangunan rumah burung hantu atau rubuha agar pengendalian tikus bisa dilakukan secara alami,” jelasnya.
Program tersebut diharapkan dapat mempercepat penyebaran pengetahuan dan praktik budidaya modern kepada kelompok tani.
Kementan selanjutnya akan terus memantau perkembangan PM-AAS, mulai dari pertumbuhan tanaman, pengendalian hama, hingga hasil panen. Evaluasi tersebut diperlukan untuk mengukur efektivitas sistem budidaya modern sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangannya ke wilayah lain.














