PravadaNews – Kabar mergernya antara Partai Gerindra dan Partai NasDem terus menggema di ruang publik. Jika terjadi, penggabungan dua partai besar itu akan mengubah peta politik.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago memandang, penggabungan dua partai itu akan melahirkan dinamika baru dan berpotensi menguatnya faksi-faksi di internal.
Secara historis, tokoh kunci pada dua partai tersebut yakni Prabowo Subianto dan Surya Paloh memiliki latar belakang yang sama berasal dari Partai Golkar.
Keduanya, akhirnya membangun kendaraan politik baru dan lahir Partai Gerindra dan Partai NasDem sebagai respons atas kerasnya kompetisi dan tarik-menarik kepentingan antara faksi di internal Partai Golkar.
“Artinya, jika dua entitas yang lahir dari pengalaman fragmentasi tersebut kembali disatukan, potensi reproduksi konflik internal bukan tidak mungkin terjadi dalam bentuk baru,” kata Arifki kepada PravadaNews, Selasa (14/4/2026).
Baca Juga: Posisi Anies Dilematis
Arifki menilai, penggabungan Gerindra dan NasDem bukan hanya menyatukan kekuatan, tetapi juga kepentingan. “Di situlah faksi-faksi akan muncul, dan ini bisa memengaruhi arah keputusan strategis, termasuk dalam penentuan dukungan capres,” ujar Arifki.
Arifki menambahkan, NasDem pada Pemilu 2024 memiliki kecenderungan progresif dengan mengusung isu perubahan. Karakter tersebut berpotensi mengalami penyesuaian jika berada dalam satu blok kekuasaan yang lebih besar.
Arifki memandang, NasDem menghadapi dilema strategis: tetap mempertahankan peran sebagai pengusung alternatif, atau bertransformasi menjadi bagian dari arus utama kekuasaan.
Jika wacana merger terealisasi, peluang NasDem untuk memanfaatkan skenario ambang batas nol persen (PT 0%) pada Pilpres 2029 juga berpotensi tertutup.
“Jika bertahan dalam blok kekuasaan, ruang untuk mengusung figur seperti Anies menjadi terbatas. Namun jika memilih keluar, NasDem harus mampu membangun basis politik baru di luar kekuasaan sebagai bekal menuju 2029,” kata Arifki.
Arifki mengatakan, wacana merger Gerindra–NasDem tidak sekadar soal konsolidasi kekuatan, tetapi juga membuka ketidakpastian baru dalam peta politik nasional—termasuk masa depan Anies dalam kontestasi Pilpres 2029.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa mengaku cukup terkejut dengan berkembangnya isu tersebut di ruang publik.
Saan menegaskan istilah yang digunakan dalam wacana tersebut adalah “fusi” dalam konteks politik, bukan “merger” maupun “akuisisi” seperti yang umum dikenal dalam dunia bisnis.
Menurut Saan, penggunaan istilah tersebut memiliki makna yang lebih spesifik dalam konteks penyatuan kekuatan politik.
“Ya, ini juga saya baru kaget juga ya, baru apa mencuat terkait dengan soal isu fusi ya. Bahkan dalam bahasa politik itu kan fusi ya, bukan merger, bukan akuisisi ya. Fusi apa Gerindra NasDem,” ujar Saan kepada wartawan di Nusantara I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026).















