PravadaNews – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan hasil investasi industri masuk ke zona negatif pada semester I-2026 yang disebut dipengaruhi volatilitas pasar keuangan jangka pendek.
Dalam catatannya, hasil investasi industri mencapai minus Rp2,47 triliun pada semester pertama 2026. Angka ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp16,19 triliun.
Ketua Bidang Keuangan, Permodalan, Investasi, dan Pajak AAJI, Meylindawati Tjoa mengungkapkan penurunan tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi pasar keuangan.
“Yang perlu rekan-rekan pahami, perubahan ini mencerminkan pengaruh volatilitas pasar keuangan terhadap kinerja investasi dalam jangka pendek di semester I 2026,” ujar Meylindawati dalam konferensi pers AAJI, Selasa (1/9/2026).
Namun, Meylindawati menekankan investasi industri asuransi jiwa berorientasi jangka panjang. Oleh karena itu, kinerja investasi tidak dapat disimpulkan hanya dari kondisi pasar dalam kurun waktu tertentu.
Adapun pendekatan industri didorong AAJI untuk tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, diversifikasi, serta kesesuaian antara aset dan kewajiban.
Meski hasil investasi tertekan, total investasi industri tercatat tetap tumbuh positif. Total investasi mencapai Rp564,42 triliun atau tumbuh 2,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp551,31 triliun.
Nilai ini, jelasnya, mencerminkan peran industri dalam mengelola dana investasi jangka panjang sekaligus mendukung pemenuhan kewajiban kepada pemegang polis.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo menyoroti total pendapatan industri yang mengalami penurunan secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pada semester I-2026, total pendapatan industri tercatat sebesar Rp96,39 triliun atau turun 11,2% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai Rp108,51 triliun.
“Jika kita melihat total pendapatan industri di semester ini, tercatat 96,39 triliun rupiah. Nah ini memang menunjukkan angka yang lebih rendah, 11,2% secara year-on-year, di mana tahun lalu 108,51 triliun,” tutur Albertus.
Albertus mengaitkan penurunan pendapatan tersebut dengan tekanan pada hasil investasi. Sejumlah instrumen seperti saham, obligasi, hingga Surat Berharga Negara (SBN) mengalami penyusutan nilai pada paruh pertama tahun ini.
Karena itu, Albertus menilai kondisi industri perlu dibaca secara utuh melalui indikator yang berkaitan langsung dengan kebutuhan perlindungan masyarakat, terutama pendapatan premi hingga pertumbuhan bisnis baru.















