PravadaNews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak lagi terdeteksi di wilayah Indonesia.
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan, abu vulkanik yang sebelumnya itu sempat dominan bergerak ke arah barat menuju Samudra Hindia. Namun, kini abu tersebut telah berada di ketinggian yang cukup tinggi di wilayah samudra.
“Abunya sudah jelas jauh, ya, karena kemarin dominasinya mengarah ke arah barat samudra. Sehingga sekarang sudah ada di level ketinggian yang cukup tinggi di samudra,” kata Ida, dikutip Kamis (10/9/2026).
Menurut Ida, BMKG saat ini tidak lagi memantau adanya sebaran abu vulkanik di wilayah Indonesia, baik di atas perairan maupun daratan.
Bahkan, sebaran abu vulkanik disebut sudah tidak terpantau di sekitar Gunung Anak Krakatau sejak Kamis (10/9/2026) malam atau tepatnya sekitar pukul 01.00 WIB.
Sebelumnya, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sempat terpantau melalui citra satelit hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki atau setara 15.000 meter pada Senin (7/9/2026).
Pada saat itu, tepatnya saat lima jurnalis hilang kontak, BMKG juga mencatat kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau relatif baik. Cuaca terpantau cerah hingga berawan dengan kecepatan angin maksimal sekitar 15 knot atau 7,5 meter per detik.
Sementara itu, BMKG memperkirakan hingga tiga hari ke depan tidak terdapat potensi hujan signifikan di sekitar Gunung Anak Krakatau. Potensi hujan ringan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah, tetapi diperkirakan tidak berada di sekitar gunung tersebut.
Diketahui, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria menjelaskan, aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri telah mengalami peningkatan kegempaan dan aktivitas permukaan sejak Kamis (2/7/2026).
Kondisi tersebut ditandai dengan erupsi yang terus berulang dan memperlihatkan masih adanya suplai magma serta gas di dalam sistem gunung api.
“Erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar, sehingga evaluasi dilakukan berdasarkan seluruh parameter pemantauan, bukan hanya tinggi kolom erupsi,” kata Lana Saria.
Kemudian pada Jumat (4/9) pukul 23.00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus dengan fenomena lava fountain yang disertai suara gemuruh dan dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah.
Maka dari itu, warga diminta untuk bersiaga jika Gunung Anak Krakatau kembali erupsi.















