Ilustrasi Minyak goreng curah dan kemasan. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Ada Apa dengan Harga Minyak Goreng?

Ada Apa dengan Harga Minyak Goreng?

PravadaNews – Di tengah kondisi harga sejumlah bahan pokok yang mulai menunjukkan tren stabil bahkan menurun, harga minyak goreng justru masih bergerak ke arah sebaliknya.

Fenomena ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat, terutama bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang sangat bergantung pada komoditas tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola oleh Bank Indonesia, dikutip pada Senin (27/4/2026) pukul pukul 12:48, harga minyak goreng curah saat ini tercatat masih mengalami kenaikan sebesar 0,74 persen, dengan harga mencapai Rp20.550 per kilogram.

Kenaikan ini memang terlihat kecil secara persentase, namun tetap memberikan dampak signifikan jika dikaitkan dengan konsumsi rutin masyarakat.

Baca juga: Harga Minyak Goreng Masih Bebani Warga

Tidak hanya minyak goreng curah, tren kenaikan juga terjadi pada minyak goreng kemasan. Minyak Goreng Kemasan Bermerk 1 tercatat naik sebesar 0,85 persen dengan harga mencapai Rp23.750 per liter.

Sementara itu, Minyak Goreng Kemasan Bermerk 2 bahkan mengalami kenaikan lebih tinggi, yakni sebesar 1,11 persen dengan harga Rp22.850 per liter. Kenaikan ini semakin mempertegas tekanan harga pada komoditas minyak goreng belum mereda.

Kondisi ini cukup kontras jika dibandingkan dengan beberapa bahan pokok lain seperti beras, gula, dan telur yang dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan penurunan harga atau setidaknya stabil.

Hal tersebut memunculkan pertanyaan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan harga minyak goreng masih bertahan tinggi.

Salah satu penyebab utama adalah faktor distribusi dan biaya logistik yang masih belum sepenuhnya pulih. Selain itu, fluktuasi harga bahan baku seperti kelapa sawit di pasar global juga turut memengaruhi harga minyak goreng di dalam negeri.

Permintaan yang tetap tinggi, baik dari sektor rumah tangga maupun industri, juga menjadi faktor yang menahan penurunan harga.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah terkait tata niaga minyak goreng juga ikut berperan. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga stabilitas harga, implementasi di lapangan kerap menghadapi tantangan, mulai dari distribusi yang tidak merata hingga potensi penimbunan oleh pihak tertentu.

Bagi masyarakat, kondisi ini tentu menambah beban pengeluaran, terutama di tengah upaya pemulihan ekonomi.

Banyak pelaku usaha kecil seperti pedagang gorengan dan warung makan mengaku harus memutar otak untuk tetap menjaga keuntungan tanpa harus menaikkan harga jual secara drastis.

Maman, salah satu pedagang ayam geprek di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama mengaku kesulitan untuk menjual dagangannya.

“Iya Nih, Harga minyak goreng Nggak turun-turun. Saya bingung jualnya. Kalau dinaikin harga dagangan saya takut pelanggan nggak beli lagi di sini,” ujar Maman kepada PravadaNews.

Bahkan, Maman mempertanyakan ada apa dengan harga minyak goreng? Sampai saat ini belum juga mengalami penurunan.

Maman berharap ke depan ada langkah konkret yang lebih efektif untuk menekan harga minyak goreng agar kembali stabil atau bahkan menurun.

Tanpa intervensi yang tepat, dikhawatirkan kenaikan harga ini akan terus berlanjut dan berdampak lebih luas terhadap daya beli masyarakat.

Dengan situasi yang ada saat ini, harga minyak goreng menjadi satu-satunya komoditas bahan pokok yang masih menunjukkan tren kenaikan, di saat masyarakat berharap adanya keringanan dari sisi kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah dan para pemangku kepentingan pun diharapkan dapat segera menemukan solusi agar kestabilan harga dapat tercapai secara menyeluruh.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *