PravadaNews – Fitch Ratings atau lembaga pemeringkat kredit menyatakan, Indonesia memiliki ruang untuk batas defisit fiskal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) tanpa langsung memicu penurunan peringkat kredit.
Pelebaran defisit hanya bisa dilakukan sementara imbas dari gangguan konflik di Timur Tengah akibat perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Direktur Sovereign Ratings Fitch, George Xu mengatakan, pelebaran defisit bisa dilakukan asalkan pemerintah bisa dengan pasar secara jelas dengan komitmen konsolidasi fiskal ke depan.
Baca juga: PHI Lampaui Target Produksi Migas
“Saya rasa itu tidak akan memicu penurunan rating dalam waktu dekat,” ujar Xu pada dikutip Senin (27/4/2026).
Fitch Rating sebelumya merilis outlook peringkat kredit Indonesia pada bulan lalu, dari stabil menjadi negatif. Hal itu disebabkan, meningkatnya ketidakpastian dalam pengambilan kebijakan dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Xu mengatakan, pelebaran defisit fiskal dapat dilakukan dengan komitmen pemeritah tidak menaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Pemerintah Indonesia tengah membahas kemungkinan pelebaran defisit anggaran akibat perang di Timur Tengah. Adapun kemungkinan pelabaran defisit menjadi 4%.
Namun, pemerintah terus berupaya agar defisit fiskal tetap di bawah 3%. Kendati begitu, pelonggaran batas defisit selama satu tahun, tidak serta-merta berdampak pada penurunan rating.
“Jika pemerintah menggunakan situasi sebagai peluang untuk menjalankan defisit yang jauh lebih tinggi dalam jangka panjang, kami akan menilai ulang arah rasio utang, dan itu memicu aksi penurunan rating,” jelas Xu.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung mengatakan, defisit fiskal masih dalam batas aman.
Juda Agung mengatakan, keuangan negara masih cukup kuat jika harga minyak mentah menyentuh 100 dolar Amerika Serikat per barel.
“Perhitungan kami menunjukkan, bahkan dalam skenario terburuk dengan harga minyak mentah rata-rata sekitar 100 dolar AS per barel tahun ini, langkah-langkah ini tetap dapat menjaga defisit fiskal di kisaran 2,9%,” ujar Juda Agung dalam acara Fitch Ratings Annual Indonesia Conference di Jakarta, Kamis (23/4).
Juga Agung menambahkan, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) saat ini masih di angka 79 dolar Amerika Serikat per barel.















