Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) Mugiyanto. (Foto: Humas Kementerian HAM)

Beranda / Nasional / Adat Berperan Jaga Warisan Dunia

Adat Berperan Jaga Warisan Dunia

PravadaNews – Di tengah upaya menjaga kelestarian warisan budaya dan alam dunia, peran masyarakat adat menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.

Pengetahuan dan praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi juga menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) Mugiyanto menegaskan, masyarakat adat memiliki peran penting dalam mendukung upaya konservasi berkelanjutan, terutama melalui pengetahuan warisan leluhur yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Mugiyanto mengatakan, di Indonesia, masyarakat adat turut berperan melestarikan warisan dunia dengan menjaga bentang alam melalui pengetahuan dan praktik turun-temurun.

“Peran tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian warisan budaya dan alam Indonesia secara berkelanjutan,” kata Mugiyanto dalam keterangan pers dikutip Kamis (24/9/2026).

Mugiyanto menyebut pengetahuan dan praktik masyarakat adat menjadi bagian penting dalam mendukung upaya konservasi yang berkelanjutan.

Mugiyanto mencontohkan, pengelolaan Subak Bali berlandaskan Tri Hita Karana sebagai praktik tradisional mendukung keberlanjutan warisan budaya dan alam.

Mugiyanto menyebut masyarakat Ata Modo di Taman Nasional Komodo mempertahankan hubungan adat dan kekerabatan dengan lingkungan sekitar.

Hubungan tersebut diwujudkan melalui praktik ekowisata berbasis masyarakat yang turut mendukung upaya pelestarian kawasan secara berkelanjutan.

“Ekowisata akar rumput yang mereka jalankan menjadi model konservasi berbasis masyarakat lokal dalam menjaga lingkungan secara berkelanjutan. Model tersebut berbeda dengan pengembangan pariwisata yang lebih banyak dipimpin negara,” ujar Mugiyanto.

Mugiyanto mengatakan, praktik masyarakat adat serupa ditemukan di berbagai daerah sehingga perlu menjadi bagian tata kelola konservasi.

Menurut Mugiyanto, Indonesia berkomitmen memperkuat tata kelola konservasi inklusif melalui kemitraan bersama masyarakat adat di berbagai daerah.

“Indonesia tetap berkomitmen memajukan tata kelola inklusif untuk mendukung konservasi berkelanjutan melalui kemitraan dengan masyarakat adat. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat perlindungan warisan budaya dan alam Indonesia,” kata Mugiyanto.

Mugiyanto menambahkan, pendekatan berbasis HAM diperlukan untuk memastikan perlindungan hak masyarakat adat dalam pengelolaan situs Warisan Dunia.

Pendekatan tersebut mencakup tata kelola kolaboratif, mekanisme pemulihan, serta penerapan prinsip FPIC dalam proses berdampak terhadap masyarakat adat.

“Pendekatan berbasis HAM diperlukan untuk memastikan perlindungan hak masyarakat adat dalam pengelolaan situs Warisan Dunia. Pendekatan ini mencakup tata kelola kolaboratif, mekanisme pemulihan, serta penerapan prinsip FPIC dalam proses yang berdampak,” ujar Mugiyanto.

Di kesempatan yang berbeda, seiring tingginya ketertarikan masyarakat Prancis terhadap warisan budaya, sejarah, arsitektur, dan fotografi, KBRI Paris kembali berpartisipasi dengan menghadirkan kekayaan budaya Indonesia melalui berbagai pameran dan kegiatan interaktif di Prancis.

Pengunjung diajak menelusuri keragaman warisan Nusantara, mulai dari Candi Borobudur, wayang, batik, tenun, hingga angklung.

KBRI Paris juga menghadirkan pameran fotografi dan karya seni Indonesia untuk memperkenalkan perjalanan hubungan bilateral Indonesia dan Prancis.

Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar mengatakan, partisipasi Indonesia dalam Journées Européennes du Patrimoine itu menjadi momentum untuk meningkatkan visibilitas Indonesia melalui kekayaan seni, budaya, dan warisan Nusantara secara langsung kepada masyarakat Prancis.

“Dalam kegiatan ini kami memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan warisan budaya Indonesia, sekaligus mendekatkan Indonesia dengan masyarakat Prancis,” ujar Oemar beberapa waktu lalu.

“Diplomasi budaya memberikan ruang bagi masyarakat untuk saling mengenal dan memahami melalui warisan, seni, dan kreativitas yang dimiliki masing-masing negara,” tambah Oemar.

Oemar berharap, pengalaman yang mereka dapatkan di sini dapat menjadi jembatan yang menginspirasi mereka untuk mengenal Indonesia lebih dekat dan menyaksikan secara langsung keragaman budaya serta warisan budaya yang dimiliki Indonesia.

“Pada akhirnya, pengenalan budaya ini diharapkan dapat semakin mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Prancis,” ungkap Oemar.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *