llustrasi gejala internalizing behavior pada anak. (Foto: Dok. Halodoc). 

Beranda / Kesehatan / Anak Cemas? Kenali Gejala Internalizing Behavior

Anak Cemas? Kenali Gejala Internalizing Behavior

PravadaNews – Anak yang tampak tenang dapat menyimpan kecemasan ketika tekanan batin tidak tersampaikan melalui perilaku yang mudah dikenali keluarga.

Dilansir dari laman resmi Halodoc, internalizing behavior dikenal sebagai gangguan perilaku yang memengaruhi kondisi psikologis dan emosional anak. Kondisi ini membuat anak lebih sering memendam pergolakan hati, sehingga tanda kecemasan atau kesedihan kerap terlambat terlihat.

Gangguan perilaku tersebut dapat muncul sejak masa kanak-kanak dan berlanjut hingga dewasa bila tidak mendapat perhatian. Anak dengan internalizing behavior juga disebut lebih rentan mengalami depresi, gangguan kecemasan, hingga risiko menyakiti diri sendiri.

“Hal yang perlu orangtua waspadai adalah internalizing behavior sangat sulit dideteksi, karena sang anak lebih suka memendam perasaannya dan tidak mau mengutarakan masalah yang sedang dihadapi,” tulis Halodoc, Kamis (11/6/2026).

Baca Juga: 4 Cara Menghilangkan Kapalan di Kaki

Adapun anak dengan kondisi ini dapat terlihat murung, pendiam, dan lebih sering menarik diri dari lingkungan. Gejala itu dapat menyerupai depresi mayor atau depresi persisten, terutama ketika suasana hati rendah berlangsung dalam waktu lama.

Tanda lain yang perlu dicermati ialah hilangnya minat pada hobi, olahraga, atau aktivitas harian yang sebelumnya disukai. Perubahan nafsu makan, berat badan, pola tidur, kelelahan kronis, kegelisahan, dan sulit berkonsentrasi juga dapat menjadi sinyal gangguan.

Dalam beberapa kasus, tekanan yang terus dipendam dapat berubah menjadi externalizing behavior atau perilaku yang diluapkan ke luar. Anak dapat menunjukkan sikap kasar, merusak, atau mengganggu lingkungan ketika emosi yang tersimpan tidak tertangani dengan baik.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan bermain sebagai bagian penting dari tumbuh kembang anak melalui Hari Bermain Internasional setiap 11 Juni. Peringatan ini mendorong pemerintah, sekolah, dan keluarga menyediakan ruang bermain yang aman, inklusif, serta bebas dari tekanan berlebihan.

“Bermain bukanlah sekadar aktivitas hiburan, melainkan hak fundamental anak yang krusial bagi perkembangan fisik, emosional, sosial, dan kognitif mereka,” demikian pesan PBB dalam peringatan Hari Bermain Internasional.

Selain itu, World Health Organization (WHO) mencatat depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku termasuk penyebab utama kesakitan dan disabilitas pada remaja. Karena itu, orang tua perlu mencari bantuan psikolog atau psikiater anak ketika gejala berlangsung lebih dari dua minggu dan mengganggu aktivitas harian.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *