PravadaNews – Kelebihan berat badan yang mulai ditemukan sejak usia sekolah menempatkan obesitas sebagai ancaman kesehatan bagi anak-anak Indonesia.
Terlihat dari hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menunjukkan 7% peserta anak sekolah dan remaja mengalami gizi lebih maupun obesitas.
Temuan itu memperlihatkan persoalan gizi anak tidak lagi hanya berkaitan dengan kekurangan asupan, tapi juga kelebihan berat badan.
“Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA,” jelas Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin melansir dari Kemkes.go.id, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, pemetaan ini menjadi dasar pemerintah dalam menentukan penanganan kesehatan yang sesuai dengan kelompok usia. Intervensi pada siswa SD tidak dapat disamakan dengan kebutuhan kesehatan anak SMP maupun SMA.
Persoalan gizi terlihat semakin kuat pada kelompok SMA karena gizi kurang ditemukan bersamaan dengan obesitas. Pemerintah kemudian mengarahkan hasil pemeriksaan tersebut untuk ditindaklanjuti melalui fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Sebelumnya, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 turut melaporkan prevalensi obesitas pada anak usia 5–12 tahun mencapai 7,8%. Angka ini menunjukkan obesitas telah terbentuk sejak masa SD, bukan hanya muncul ketika seseorang memasuki usia dewasa.
United Nations Children’s Fund (UNICEF) juga mencatat kelebihan berat badan dan obesitas dialami 1 dari 5 anak usia sekolah. Masalah serupa ditemukan pada 1 dari 7 remaja di Indonesia sehingga penanganannya perlu menjangkau rumah dan sekolah.
Dalam hal ini, Alodokter menjelaskan obesitas menjadi kondisi ketika berat badan berlebih disebabkan penumpukan lemak di dalam tubuh. Karena itu, tubuh anak yang terlihat besar belum dapat langsung ditetapkan sebagai obesitas tanpa pemeriksaan medis.
Penentuan status gizi dilakukan melalui indeks massa tubuh (IMT) yang disesuaikan dengan berat badan, usia hingga jenis kelamin. Pengukuran tersebut diperlukan karena pertumbuhan anak berbeda dari orang dewasa.
“Saat mendampingi anak obesitas, orang tua perlu memastikan anak menerapkan pola makan sehat dan rutin beraktivitas fisik,” tulis Alodokter dalam laman resminya, Jumat (17/7).
Faktor keluarga juga berpengaruh karena kebiasaan makan dan aktivitas anak umumnya terbentuk dari lingkungan rumah. Kondisi genetik tertentu dapat membuat seorang anak lebih mudah mengalami penambahan berat badan.
Obesitas pada masa anak-anak dapat meningkatkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, hingga gangguan kolesterol ketika usia mereka bertambah. Berat badan berlebih juga dapat membebani persendian serta mengganggu pernapasan.
Dampaknya dapat meluas pada kondisi psikologis ketika anak merasa rendah diri atau menerima ejekan karena bentuk tubuhnya. Karena itu, penanganan perlu dilakukan tanpa menyalahkan anak agar tidak mengganggu pertumbuhannya.















