PravadaNews – Bagi sebagian orang, pelemahan rupiah mungkin hanya terlihat sebagai angka di layar perbankan atau berita ekonomi. Namun dalam praktiknya, dampak kurs dolar yang terus naik dapat langsung terasa pada kehidupan sehari-hari, terutama melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga meningkatnya tekanan inflasi nasional.
Dikutip Senin (18/5/2026), dari data Bank Indonesia (BI) menunjukkan tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS terus berlangsung dalam lima tahun terakhir ini.
Tahun Rata-rata / Tren Kurs USD-IDR
- 2021 – Rp14.300
- 2022 – Rp14.400
- 2023 – Rp15.200
- 2024 – Rp15.800
- 2025 – Rp16.200–16.800
- 2026 – Sudah menembus Rp17.600
Kenaikan kurs dolar tersebut dipengaruhi berbagai faktor global seperti suku bunga tinggi di Amerika Serikat, ketidakpastian ekonomi dunia, perang geopolitik, hingga arus modal asing yang keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia.
Semakin mahal dolar, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan Indonesia untuk membeli barang impor. Persoalannya, banyak kebutuhan pokok masyarakat Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
Ketika kurs rupiah melemah hingga mendekati Rp20.000 per dolar, salah satu dampak paling cepat terasa adalah kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.
Penyebab utamanya, karena sebagian besar sektor pangan dan industri nasional masih menggunakan bahan baku impor, seperti tempe dan tahu yang bergantung pada kedelai impor.
Karena tempe dan tahu merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia. Namun sekitar 90 persen bahan baku kedelai yang digunakan masih berasal dari impor.
Artinya, ketika dolar menguat, harga kedelai impor ikut naik, biaya produksi pengrajin meningkat, bahkan ukuran tempe mengecil atau harga menaik.
Situasi ini pernah terjadi beberapa kali ketika rupiah melemah tajam. Banyak masyarakat mengira ayam dan telur sepenuhnya diproduksi di dalam negeri. Padahal industri peternakan nasional masih sangat bergantung pada impor.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Level Rp17.500
Mulai dari DOC (Day Old Chick/bibit ayam), bahan baku pakan, vitamin, hingga beberapa komponen produksi lainnya, masih menggunakan produk impor atau bahan berbasis dolar.
Ketika dolar menguat, harga pakan ternak naik, biaya produksi peternak meningkat, harga ayam dan telur ikut terdorong naik. Akibatnya, daya beli masyarakat ikut tertekan.
Tak hanya itu, ketika dolar menguat, harga bahan bakar minyak (BBM) bisa semakin mahal. Dampak yang sangat besar datang dari sektor energi. Indonesia hingga saat ini masih mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri.
Dampak dari hal itu, biaya impor minyak meningkat, subsidi energi membengkak, tekanan terhadap APBN semakin berat.
Jika pemerintah tidak mampu menahan subsidi, maka harga BBM berpotensi naik. Yang akan terjadi, kenaikan BBM biasanya memicu efek domino, seperti ongkos transportasi meningkat, biaya distribusi barang naik, harga kebutuhan pokok ikut melonjak.
Tekanan nilai tukar rupiah juga berkaitan erat dengan inflasi bahan makanan atau volatile food. Data inflasi volatile food menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir:
Tahun Inflasi Volatile Food (YoY)
2021: 3,63%
2022: 5,61%
2023: 6,73%
2024: 0,12%
2025: 6,21%
2026: 3,37%
Kenaikan inflasi pangan membuat masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling terdampak. Sebab, sebagian besar pengeluaran rumah tangga digunakan untuk membeli makanan.
Menanggapi hal tersebut, Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda mengatakan, dampak paling besar dari pelemahan rupiah adalah inflasi impor yang sulit dihindari.
“Dampaknya adalah, inflasi dari impor akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi naik, harga barang naik. Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi,” ujar Huda.
Menurut Huda, ketergantungan Indonesia terhadap barang impor membuat pelemahan rupiah cepat merambat ke harga kebutuhan sehari-hari.
Jika rupiah benar-benar menyentuh Rp20.000 per dolar, tekanan ekonomi diperkirakan paling besar dirasakan masyarakat kelas menengah ke bawah.
Beberapa dampak yang berpotensi terjadi antara lain, harga sembako meningkat, tarif transportasi naik, biaya pendidikan dan kesehatan bertambah mahal, cicilan kredit semakin berat, PHK di industri yang bergantung impor.
Tak sampai di situ, daya beli masyarakat berisiko turun karena kenaikan pendapatan tidak secepat kenaikan harga barang.
Untuk menghadapi hal tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) mulai menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas rupiah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, pemerintah akan membantu BI mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI lah sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur, kita intervention bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi,” ujar Purbaya beberapa waktu lalu.
Purbaya menjelaskan, kenaikan yield obligasi (harga obligasi) terlalu tinggi dapat membuat investor asing mengalami capital loss atau beli mahal → jual lebih murah lalu keluar dari pasar Indonesia. Jika modal asing keluar besar-besaran, rupiah bisa semakin melemah.
“Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asing nggak keluar, atau masuk malah kalau yield-nya membaik sehingga rupiah akan menguat,” tambah Purbaya.
Langkah intervensi di pasar obligasi diharapkan dapat menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus menahan tekanan terhadap rupiah.
Kalau memang terjadi melemahnya rupiah hingga mendekati Rp20.000 per dolar bukan sekadar persoalan kurs mata uang. Kondisi itu bisa menjadi alarm serius bagi ketahanan ekonomi nasional.
Dengan begitu, ketergantungan terhadap impor membuat Indonesia sangat rentan terhadap gejolak nilai tukar. Mulai dari pangan, energi, hingga industri manufaktur masih membutuhkan bahan baku dari luar negeri.
Jika tidak, setiap kali dolar menguat, masyarakat akan kembali menghadapi siklus yang sama, harga naik, daya beli turun, dan tekanan ekonomi semakin berat.















