PravadaNews – Makan nasi dengan garam masih menjadi pilihan sebagian masyarakat ketika anggaran dan lauk tidak lagi terjangkau. Menu sederhana itu menempatkan garam sebagai pendamping terakhir saat daya beli melemah.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 23,36 juta penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan pada September 2025. Jumlah tersebut setara dengan 8,25% penduduk Indonesia.
Di tengah kondisi ini, harga garam konsumsi masih lebih rendah dibandingkan sejumlah lauk. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga rata-ratanya mencapai Rp11.499 per kilogram pada Januari 2026.
Pada periode yang sama, harga telur ayam ras mencapai Rp30.931 per kilogram, sedangkan daging ayam ras sebesar Rp39.277. Selisih tersebut membuat garam lebih mudah dijangkau ketika pengeluaran makan harus ditekan.
Adapun praktik makan nasi dengan garam masih ditemukan di Oemofa, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Agustus 2025 lalu. Pemerintah Provinsi NTT mencatat seorang siswa terbiasa menyantap menu itu ketika berada di rumah.
Pengalaman ini terjadi ketika tingkat kemiskinan NTT masih mencapai 17,50% pada September 2025. Angkanya bahkan mencapai 21,48% di wilayah perdesaan.
Hal serupa pernah dialami pekerja perantau asal Sukabumi, Tessa (23), ketika kemampuan belanjanya masih terbatas. Meski kini tidak lagi mengonsumsi menu tersebut, pengalaman itu belum sepenuhnya hilang dari ingatannya.
“Dulu pernah, tapi sekarang udah gak pernah lagi,” kata Tessa ketika berbincang dengan PravadaNews, Senin (27/7/2026).
Kini, Tessa membatasi biaya makan antara Rp20 ribu hingga Rp50 ribu per hari. Rata-rata anggarannya sekitar Rp30 ribu setelah disesuaikan dengan kebutuhan lainnya.
Kenaikan harga, menurutnya, paling terasa pada minyak goreng, daging, dan telur. Kondisi ini membuat pilihan lauk harus mengikuti kemampuan belanja setiap hari.
Karena itu, Tessa menilai pekerja setidaknya membutuhkan penghasilan setara upah minimum. Pendapatan yang tidak mengikuti kenaikan harga berisiko kembali mempersempit pilihan makanan.
Sebelumnya, persoalan nasi garam juga disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Kabupaten Bogor, Senin (2/2).
“Sekarang, rakyat kita masih banyak yang hanya makan nasi mungkin dengan daun singkong, mungkin hanya dengan garam,” tutur Kepala Negara itu dalam keterangan resminya.
Fenomena nasi garam bukan lagi pola makan umum, tapi belum sepenuhnya menjadi cerita masa lalu. Menu tersebut masih dapat dipilih ketika nasi tersedia, sedangkan pendapatan tidak cukup untuk membeli lauk.















