Pengamat politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio. (Foto: Dok. Tangkapan layar Youtube Hendri Satrio Official)

Beranda / Politik / ASN Ikut Terdampak Saat Kelas Menengah Tertekan

ASN Ikut Terdampak Saat Kelas Menengah Tertekan

PravadaNews – Tekanan biaya hidup dan kebutuhan rumah tangga membuat ruang konsumsi kelompok kelas menengah semakin terbatas, termasuk pada aparatur sipil negara (ASN).

Kondisi itu terjadi ketika ekonomi Indonesia tetap mencatat pertumbuhan positif pada triwulan II 2026 sebesar 5,29% secara tahunan (year on year), dengan konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu komponen utama dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB). 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai PDB Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun berdasarkan harga berlaku dan Rp3.576,2 triliun berdasarkan harga konstan 2010. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% (yoy) dan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.

Pengamat politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, mengatakan pembahasan mengenai kelas menengah tidak hanya berkaitan dengan pekerja sektor swasta, tapi juga mencakup ASN yang ikut berperan dalam aktivitas konsumsi masyarakat.

Menurutnya, tekanan yang dialami kelompok tersebut perlu dilihat dari kondisi ekonomi dan kehidupan sehari-hari karena dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan pengeluaran.

“Kelas menengah itu kebanyakan kan ASN. Jadi jangan cuma disangka pegawai swasta doang, itu ASN-ASN juga kelas menengah,” ucap Hendri dalam keterangan yang diterima, Rabu (23/9/2026). 

Hendri menilai, tekanan terhadap kelas menengah dapat semakin berat apabila beban pekerjaan berjalan bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan hidup, sehingga ruang ekonomi kelompok ini semakin terbatas.

“Jadi kalau mereka ditekan di kantor, ditekan juga di kehidupan nih, lama-lama bisa pecah,” ujar Hensa, sapaan akrab Hendri Satrio.

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Ramli menjelaskan kelas menengah menjadi kelompok yang masih memiliki kemampuan konsumsi sehingga keberadaannya penting dalam menjaga perputaran ekonomi.

Baginya, kebijakan terhadap kelas menengah juga perlh mempertimbangkan dampak konsumsi masyarakat terhadap sektor usaha lain melalui efek berganda.

“Jadi buat membetulkan Indonesia, gimana si kelas menengah ini yang harus digenjot. Kalau dia digenjot ada namanya efek pengganda, multiplier effect. Jadi dengan dia belanja, misalnya dia belanja baju, yang bikin baju jadi hidup. Yang bikin baju hidup, dia jadi beli bahan baku. Jadi ada banyak efeknya,” kata Dipo dalam kesempatan yang sama.

Perputaran konsumsi kelas menengah, lanjutnya, memiliki keterkaitan dengan pelaku usaha karena pengeluaran masyarakat dapat menciptakan aktivitas ekonomi dari tingkat produsen hingga penyedia bahan baku.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *