PravadaNews – Atta Halilintar mendatangi salah satu sekolah di Depok dalam rangka memberikan edukasi kepada para siswa mengenai bahaya bullying atau perundungan, dengan menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan saling menghargai.
Suami dari Aurel Hermansyah ini menyampaikan pandangan tegas bahwa tindakan perundungan, baik secara fisik, verbal, maupun melalui media sosial, dapat memberikan dampak serius terhadap kondisi psikologis korban.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak para siswa untuk berani bersuara, tidak menjadi pelaku maupun penonton, serta menumbuhkan empati sebagai kunci utama dalam mencegah terjadinya bullying di lingkungan sekolah
Atta mematahkan stigma bahwa menindas teman akan membuat seseorang terlihat jagoan. Sebaliknya, pelaku bullying justru sedang menghancurkan masa depannya sendiri.
“Nggak ada kerennya gitu kalau kamu nge-bully teman kamu. Sama aja dengan kamu itu nanti madesu, aku bilang. Masa depan suram gitu,” kata Atta dikutip Minggu (19/4/2026).
Sebagai ayah dari dua anak perempuan, Atta kerap membayangkan anak-anaknya akan tumbuh dan menghadapi lingkungan sekolah yang rawan perundungan.
“Karena aku udah punya anak juga ya. Jadi aku tuh kan sekarang sudah menghadapi banyak pertanyaan-pertanyaan dari anakku. Jadi di sekolah juga… ketika ketemu ya, ini nanti anakku makin besar juga bakal kayak gini nih,” ungkap Atta.
Hal itu membuat Atta merasa punya tanggung jawab untuk ikut mencegah bullying sejak dini. Ia pun mengingatkan bahwa kebiasaan bullying bisa terbawa hingga dewasa dan berdampak buruk.
“Kalau kita dari sekolah nanti udah sering bullying, nanti kebawa sampai gede. Dan itu ngabisin waktu gitu kan,” pesan Atta.
Pria 31 tahun ini juga menjelaskan perbedaan antara kritik dan bullying. Sebab, keduanya sangat berbeda.
“Kalau kritik, kita tuh harus selalu terima ya, apalagi kalau omongannya baik. Tapi kalau misalnya bullying itu kan lebih ke menghina, merendahkan, kata-kata kasar, fisik,” jelas Atta.
Alih-alih melakukan bullying, Atta Halilintar mengajak generasi muda untuk fokus pada hal positif dan masa depan.
“Lebih baik kita itu isi dengan hal-hal yang produktif; mereka belajar, mereka terus berkembang, mereka menggali hal-hal baru, mereka mempelajari teknologi di masa depan,” pungkas Atta.















