Badan Pangan Nasional (Bapanas) bergerak cepat menjaga stabilitas pasokan dan harga kedelai nasional. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Bapanas Lakukan Pendalaman soal Harga Kedelai di Aceh

Bapanas Lakukan Pendalaman soal Harga Kedelai di Aceh

PravadaNews – Badan Pangan Nasional (Bapanas) bergerak cepat menjaga stabilitas pasokan dan harga kedelai nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi rantai pasok komoditas pangan.

Melalui koordinasi intensif bersama para pelaku usaha, pemerintah berupaya memastikan distribusi kedelai tetap lancar sehingga tidak menimbulkan gejolak di tingkat produksi.

Langkah ini juga dilakukan untuk menjaga harga kedelai di kalangan pengrajin tahu dan tempe tetap terkendali serta berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP), guna melindungi daya beli masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan usaha kecil di sektor pangan.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyampaikan, langkah antisipatif telah dilakukan melalui rapat koordinasi dengan para importir kedelai nasional. Berdasarkan hasil pemantauan, harga kedelai di tingkat importir untuk kualitas tertinggi saat ini berada pada kisaran Rp10.100 hingga Rp10.200 per kilogram.

“Saat ini harga kedelai relatif baik. Di tingkat konsumen atau pengrajin, khususnya di wilayah Jawa dan Bali, harga tertinggi berada di kisaran Rp11.000 per kilogram,” ujar Ketut, dikutip dari lamam Bapanas, Minggu (19/4/2026).

Harga tersebut dinilai masih dalam batas aman karena berada di bawah HAP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp12.000 per kilogram. Meskipun terdapat penyesuaian dibandingkan periode sebelumnya, Bapanas menegaskan kenaikan yang terjadi masih dalam batas wajar dan tidak menunjukkan lonjakan yang signifikan.

Dalam rangka memperkuat pengawasan, Bapanas juga mewajibkan para importir untuk melaporkan setiap rencana perubahan harga sebelum diberlakukan. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan transparansi pembentukan harga serta menjaga kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan di seluruh wilayah.

Selain itu, pemerintah melalui Bapanas telah menugaskan Perum Bulog untuk melakukan pengadaan cadangan kedelai sebanyak 70.000 ton sebagai langkah mitigasi dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.

Terkait adanya laporan harga kedelai di wilayah Aceh yang masih menyentuh Rp12.000 per kilogram, Bapanas akan segera melakukan pendalaman terhadap rantai distribusi.

“Kami akan mengumpulkan distributor dan importir untuk wilayah Aceh guna memastikan distribusi berjalan efisien sehingga harga di tingkat pengrajin dapat lebih terkendali,” tegas Ketut.

Di tingkat lapangan, aktivitas pengrajin tahu dan tempe terpantau tetap berjalan normal. Salah satu pengrajin di Wonosobo, Jawa Tengah, Ngaliman, menyampaikan pasokan kedelai masih lancar tanpa hambatan.

“Pasokan tidak berubah, tetap lancar. Jumlah tenaga kerja juga tidak berubah. Namun, kami melakukan sedikit penyesuaian ukuran produk sebagai respons terhadap perubahan biaya produksi,” ujar Ketut.

Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah terus mendorong penguatan produksi kedelai dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap impor yang saat ini masih cukup tinggi.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman tengah menyiapkan berbagai program peningkatan produksi melalui penyediaan lahan, benih unggul, serta pendampingan kepada petani secara bertahap dan berkelanjutan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *