Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. (Foto: Dok. Lampungprov.go.id)

Beranda / Nasional / Catatan Sejarah Gunung Anak Krakatau Sejak 1927

Catatan Sejarah Gunung Anak Krakatau Sejak 1927

PravadaNews – Sejak awal September 2026, Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian ketika aktivitas vulkaniknya meningkat di kawasan Selat Sunda.

Gunung yang lahir dari sisa kehancuran Krakatau tersebut kini berada dalam pengawasan ketat setelah Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan status Level III atau Siaga sejak Juli 2026.

Berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Anak Krakatau dikenal sebagai gunung api muda yang tumbuh setelah erupsi besar Krakatau 1883 menghancurkan sebagian besar tubuh gunung sebelumnya.

Aktivitas vulkanik kemudian kembali muncul dari bawah laut pada 1927 dan membentuk gunung baru yang terus berkembang melalui rangkaian erupsi hingga saat ini.

Perubahan besar kembali terjadi pada Kamis (22/12/2018) ketika sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau runtuh ke laut dan memicu tsunami Selat Sunda.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan evaluasi pasca 2018 dilakukan dengan melihat perubahan morfologi serta berbagai parameter aktivitas gunung api.

“Tidak setiap erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami, karena kejadian 2018 berkaitan dengan runtuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam skala besar,” ujar Lana dalam Konferensi Pers yang diadakan daring, Minggu (6/9/2026).

Menurutnya, kondisi tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali tumbuh setelah 2018 masih relatif kecil sehingga belum menunjukkan potensi runtuhan besar yang dapat memicu tsunami.

Pada Kamis (2/7), aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat setelah pemantauan menunjukkan peningkatan kegempaan dan aktivitas permukaan. Kondisi tersebut ditandai dengan rangkaian erupsi yang memperlihatkan masih adanya suplai magma dan gas di dalam sistem gunung api.

“Erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar, sehingga evaluasi dilakukan berdasarkan seluruh parameter pemantauan, bukan hanya tinggi kolom erupsi,” jelas Lana.

Kemudian pada Jumat (4/9) pukul 23.00 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus dengan fenomena lava fountain yang disertai suara gemuruh dan dentuman yang terdengar di sejumlah wilayah.

Sebagai langkah mitigasi, Badan Geologi menetapkan larangan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung serta meminta masyarakat mengikuti informasi resmi terkait perkembangan erupsi.

Selain pembatasan wilayah, PVMBG menggunakan pemantauan multi-parameter melalui data kegempaan, deformasi, pengamatan visual, emisi gas, hingga citra satelit untuk menentukan kebijakan berikutnya.

Lana menegaskan, keselamatan masyarakat dan petugas menjadi prioritas dalam setiap tindakan mitigasi karena aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu.

Badan Geologi memastikan evaluasi terhadap Gunung Anak Krakatau terus dilakukan sebagai upaya membaca perkembangan aktivitas gunung yang masih mengalami perubahan sejak terbentuk hampir satu abad lalu.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau perkembangan dan dampak dari aktivitas Gunung ini terhadap atmosfer ataupun kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

Berdasarkan analisis citra satelit pada pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *