Ilustrasi Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio mendesak Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mundur dari jabatannya imbas rupiah keok. (Foto: PravadaNews)

Beranda / Politik / DPR Desak Gubernur BI Mundur Imbas Rupiah Keok Rp 17.671

DPR Desak Gubernur BI Mundur Imbas Rupiah Keok Rp 17.671

PravadaNews – Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio mendesak Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo agar dapat mempertimbangkan pengunduran diri dari jabatannya.

Permintaan itu disampaikan oleh Primus menyusul masih cukup melemahnya nilai tukar rupiah beberapa pekan ini terutama pada hari ini, Senin 18 Mei 2026 sempat menyentuh Rp 17.671 per dolar Amerika Serikat.

Desakan tersebut disampaikan Primus dalam rapat kerja Komisi XI DPR bersama Gubernur Bank Indonesia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).

Dalam forum itu, Primus menilai kondisi pelemahan rupiah yang terjadi beberapa pekan ini perlu disikapi secara lebih bertanggung jawab oleh pimpinan bank sentral.

Primus menyebut, pengunduran diri dapat menjadi bentuk sikap “gentleman” apabila seseorang telah dinilai tidak lagi mampu menjalankan tugas secara optimal.

Primus turut menyinggung bahwa langkah tersebut tidak seharusnya dimaknai sebagai penghinaan, melainkan bentuk tanggung jawab moral.

“Pak Perry yang saya hormati, kadang-kadang pak, tindakan gentleman itu bukan penghinaan. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang mengundurkan diri. Tidak ada salah, kalau selanjutnya terserah Bapak tentu saja,” kata Primus dalam rapat.

“Tapi itu bukan sikap penghinaan Pak. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik, seperti itu. Tidak ada salahnya,” tegas Primus

Dalam paparannya, politikus PAN itu juga turut menyoroti kondisi ekonomi nasional yang sejauh ini menurutnya telah menunjukkan anomali.

Primus juga menggarisbawahi poin pertumbuhan ekonomi yang disebut mencapai 5,61 persen, namun tidak diikuti stabilitas nilai tukar rupiah maupun kinerja pasar saham.

“Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar,” kata Primus.

Sosok aktor sinetron itu juga turut menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, melainkan juga terhadap seluruh mata uang asing yang ada di dunia.

Primus berpendapat tidak hanya dolar AS, terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia, nilai tukar rupiah juga anjlok.

“Faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Real, apalagi Hong Kong Dolar, Euro. Saya masih ingat Pak, Euro tahun waktu awal-awal tahun 2006 itu 7.000 per Euro, sekarang hampir 19.000, hampir 20.000,” kata Primus.

Selain rupiah, Primus menyoroti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sejauh ini menurutnya masih tertinggal dibanding bursa global.

Primus menyebut bahwa pasar saham negara lain sebetulnya juga telah pulih pasca gejolak konflik geopolitik, sementara Indonesia masih berada dalam tekanan.

“Indeks kita juga habis Pak, merosot turun, di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus, dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen,” tutup Primus.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin keok menjelang siang pada perdagangan Senin (18/5/2026).

Menjelang siang hari, IHSG tercatat semakin tertekan. Pada pukul 10.51 WIB, indeks turun 4,26 persen atau 286,70 poin ke level 6.436,62.

Sepanjang perdagangan pagi, IHSG bergerak dalam rentang 6.425 hingga 6.631 dengan 719 saham melemah, 71 menguat, dan 169 stagnan.

Nilai transaksi tercatat mencapai Rp9,48 triliun dengan volume 16,12 miliar lembar saham.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebut tekanan pasar tersebut dipengaruhi faktor eksternal dan internal.

Salah satu penyebabnya menurut Herdi yaitu adanya ketegangan geopolitik, arus keluar modal asing, serta fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Herdi menambahkan, kondisi itu memicu penyesuaian portofolio investor asing dan meningkatkan volatilitas pasar

“Sentimen yang membayangi antara lain konflik geopolitik Timur Tengah, potensi foreign outflow pasca rebalancing MSCI, serta pergerakan rupiah terhadap dolar AS,” paparnya.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *