Ilustrasi komoditas kelapa sawit. (Foto: Dok. Kementerian Pertanian)

Beranda / Ekonomi / Hasil Sawit Dikejar dari Lahan yang Ada

Hasil Sawit Dikejar dari Lahan yang Ada

PravadaNews – Di tengah upaya meningkatkan hasil sawit nasional, pemerintah memilih memaksimalkan kebun yang sudah tersedia. Luas perkebunan sawit Indonesia kini mencapai sekitar 16,83 juta hektare.

Dari bentang kebun tersebut, sekitar 6,93 juta hektare berada di tangan rakyat. Areal ini menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 3,04 juta pekebun di berbagai daerah.

Karena itu, peningkatan produksi diarahkan melalui peremajaan tanaman, perbaikan budidaya, dan penerapan teknologi. Langkah tersebut ditempuh tanpa kembali bertumpu pada penambahan luas perkebunan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, peningkatan hasil dari lahan yang tersedia menjadi bagian dari arah pembangunan sawit nasional.

Kebijakan itu juga diarahkan agar perbaikan di tingkat kebun dapat meningkatkan nilai ekonomi yang diterima pekebun.

“Kementerian Pertanian terus meningkatkan produktivitas sawit melalui perbaikan budidaya, penggunaan benih unggul, peremajaan sawit rakyat, serta penguatan hilirisasi agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen terbesar dunia, tetapi juga mampu menghadirkan nilai tambah yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan petani dan perekonomian nasional,” tutur Amran dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (18/8/2026).

Salah satu langkah yang ditempuh melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) untuk mengganti tanaman tua maupun tidak produktif dengan benih unggul bersertifikat.

Hingga 27 Juli 2026, rekomendasi teknis PSR mencapai 23.688 hektare atau 47,4% dari target tahun ini seluas 50.000 hektare.

Sementara itu, Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat sekitar 8,40 juta hektare kebun sawit dikelola perusahaan swasta. Sekitar 607 ribu hektare lainnya menjadi perkebunan besar negara.

Namun, besarnya areal belum sepenuhnya diikuti kemampuan kebun menghasilkan sesuai potensinya.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat perkebunan besar baru menghasilkan sekitar 62% dari potensi maksimal. Pada kebun rakyat, angkanya berada di kisaran 53%.

Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI Dwi Asmono menilai, kesenjangan tersebut antara lain dipengaruhi pengelolaan kebun yang belum optimal.

Menurut GAPKI, penerapan praktik budidaya terbaik secara konsisten dapat meningkatkan produksi sekitar 35–40% tanpa menambah luas perkebunan.

“Produktivitas kita cenderung stagnan, bahkan mengalami penurunan ketika terjadi El Niño. Padahal, sawit masih memiliki potensi peningkatan yang sangat besar,” ujar Dwi dalam Pekan Riset Sawit Indonesia, Senin (20/7).

Dengan kondisi ini, tambahan produksi kini lebih diarahkan pada peningkatan hasil setiap hektare kebun dibanding kembali mengandalkan perluasan lahan.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *