PravadaNews – Setiap investasi harus memberikan dampak nyata bagi penciptaan lapangan kerja berkualitas. Pemerintah berharap dengan adanya investasi yang dapat dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya.
“Setiap investasi baru memiliki makna strategis bagi pemerintah dalam upaya perluasan kesempatan kerja,” kata Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Afriansyah Noor dalam peresmian fasilitas produksi baru PT Givaudan Indonesia di kawasan GIIC, Cikarang, Bekasi, Jumat (3/7/2026).
Afriansyah mengatakan, pemerintah terus berupaya agar pertumbuhan dunia usaha dibarengi dengan ketersediaan lapangan kerja.
“Fokus kita adalah memastikan agar pertumbuhan dunia usaha berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia,” ujar Wamenaker.
Afriansyah mengatakan, fasilitas produksi baru ini menjadi salah satu titik pantau pemerintah terkait pemanfaatan investasi bagi perluasan kesempatan kerja.
Baca Juga: PMSE Atur Tata Kelola Perdagangan Digital
Pada tahap awal ekspansi (Proyek Kartini) ini, perusahaan mencatatkan penyerapan 60 tenaga kerja baru. Pada tahap selanjutnya, fasilitas produksi baru ini ditargetkan dapat menyerap kurang lebih 400 tenaga kerja.
“Kami Pemerintah menekankan agar komitmen penyerapan tenaga kerja ini terus berlanjut secara terukur pada tahap-tahap investasi berikutnya,” Wamenaker.
Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan, evaluasi pelaksanaan Maganghub 2025 dilakukan terhadap 65.245 peserta dari dua batch. Evaluasi itu mencakup seluruh peserta program.
Hasilnya, 30% peserta mendapat penawaran kerja dari perusahaan tempat magang. Sementara itu, 33% belum ditawari tapi memiliki indikasi peluang, dan 37,2% belum memperoleh tawaran sampai program selesai.
Data itu menunjukkan skema pemagangan berperan sebagai jembatan awal menuju dunia kerja. Namun, angka ini belum cukup untuk menyimpulkan MagangHub sebagai faktor utama penurunan pengangguran nasional.
Diketahui, pemerintah tetap melanjutkan Program Magang Nasional pada 2026 dengan target lebih besar. Program tersebut disetujui untuk sekitar 150.000 peserta, dengan tahap awal sekitar 50.000 peserta.















