Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Chicha Koewoyo. (Foto: Dok.ddjp)

Beranda / Daerah / Penanganan Stunting Butuh Keterlibatan Semua Pihak

Penanganan Stunting Butuh Keterlibatan Semua Pihak

PravadaNews – Penanganan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk generasi muda. Perubahan pola makan, gaya hidup sehat, hingga pemahaman tentang kesehatan reproduksi menjadi langkah penting mencegah stunting sejak dini.

Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Chicha Koewoyo mengatakan, stunting bukan disebabkan faktor keturunan. Melainkan kondisi gizi pada kehidupan awal hingga dewasa.

Oleh karena itu, perlu edukasi secara intensif dan menyeeluruh pada lapisan masyarakat mengenai stunting. Termasuk bagi generasi muda atau remaja. “Remaja harus memahami cara mencegahnya sejak dini,” ujar Chicha dikutip Jumat (3/7/2026).

Baca Juga: Meninjau Penataan Kali Grogol Segmen Kemanggisan

Bendahara Fraksi PDI Perjuangan itu menilai, remaja memiliki penting dalam menjaga kesehatan. “Remaja harus menjadi pelaku utama perubahan bagi dirinya sendiri,” ujar Chicha.

Mengacu pada peluncuran buku Cegah Stunting Sebelum Genting: Peran Remaja dalam Pencegahan Stunting, persoalan gizi remaja masih memerlukan perhatian serius.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2021, sebanyak 32 persen remaja mengalami anemia. Sedangkan 25,7 persen remaja usia 13-15 tahun berstatus pendek dan sangat pendek.

Menurut Chicha, persoalan itu tidak bisa menjadi beban satu pihak. Selain perilaku remaja yang perlu perbaikan, perlu penguatan akses terhadap layanan kesehatan dan edukasi.

“Penanganan stunting harus melibatkan remaja sebagai bagian dari solusinya,” ucap dia.

Sementara itu, Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Dian Pratama menilai, gaya hidup remaja menjadi salah satu tantangan dalam pencegahan stunting.

Konsumsi makanan cepat saji, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan begadang berpengaruh terhadap status gizi. “Remaja perlu membiasakan pola hidup sehat sejak sekarang,” tutur dia.

Menurut Dian, perubahan gaya hidup dapat dimulai dari memperbaiki pola makan, rutin berolahraga, menjaga kualitas tidur, serta mengelola stres.

“Perbaikan gaya hidup akan membantu memutus mata rantai stunting,” kata dia.

Stunting, lanjut dia, umumnya terdiagnosis saat anak berusia dua tahun. Ketika terjadi gangguan pertumbuhan. Padahal, risiko stunting muncul sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Masa perkembangan otak dan fisik anak.

Dalam buku ‘Cegah Stunting Sebelum Genting’ karya Hendriasari Oktaviana disebutkan, remaja dapat berkontribusi mencegah stunting dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang.

Selain itu, media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana kampanye untuk meningkatkan kesadaran generasi muda tentang pentingnya pencegahan stunting.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *