PravadaNews – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengubah aktivitas belajar mengajar di sejumlah wilayah Kalimantan Utara.
Demi menjaga kesehatan peserta didik dan tenaga pendidik, sejumlah raudhatul athfal (RA), madrasah, hingga pesantren terdampak kini menerapkan sistem pembelajaran dari rumah.
Kebijakan tersebut menjadi langkah antisipasi pemerintah untuk mengurangi paparan asap yang dapat mengganggu kesehatan.
Penyesuaian kegiatan belajar mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 3 Tahun 2026 tentang pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan keagamaan yang terdampak karhutla.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Utara, Muh. Saleh mengatakan, penerapan belajar dari rumah ini disesuaikan dengan kondisi kabut asap di setiap wilayah.
“Dalam kondisi seperti ini, yang paling utama adalah keselamatan jiwa. Anak-anak, guru, tenaga kependidikan, pengasuh pesantren, dan seluruh warga satuan pendidikan harus terlindungi dari dampak kabut asap akibat karhutla,” ujar Saleh, Senin (31/8/2026).
Menurut Saleh, kegiatan pendidikan harus tetap berlangsung, tetapi pelaksanaannya tidak boleh mengabaikan kesehatan dan keselamatan warga.
Karena itu, belajar dari rumah menjadi pilihan sementara bagi daerah dengan kualitas udara terdampak karhutla.
Saleh meminta para pihak berpentingan berkoordinasi untuk memastikan sistem pembelajaran dari rumah berjalan secara tertib dan fleksibel.
Baik itu kantor Kemenag kabupaten dan kota, pengelola satuan pendidikan, guru, tenaga kependidikan, maupun orang tua.
Satuan pendidikan juga diminta tidak membebani peserta didik dengan tugas yang berlebihan selama belajar dari rumah.
Materi dan metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing peserta didik, tanpa mengabaikan capaian pembelajaran.
Kanwil Kemenag Kalimantan Utara meminta setiap satuan pendidikan terus memantau perkembangan kualitas udara serta mengikuti arahan pemerintah daerah.
Pola pembelajaran dapat kembali disesuaikan berdasarkan kondisi di masing-masing wilayah.
“Untuk sementara, mari kita utamakan keselamatan. Pendidikan tetap berjalan, tetapi kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan keagamaan di Kalimantan Utara menjadi prioritas,” pungkas Saleh.















