PravadaNews – Kekeringan akibat fenomena El Nino menekan luas pertanaman padi di Indonesia, sebagaimana terlihat dalam hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal November 2026.
BPS mencatat proporsi lahan yang masih ditanami padi atau standing crop hanya sebesar 20% pada September 2026, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya maupun September 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan penurunan tersebut berkaitan dengan kondisi El Nino yang juga pernah terjadi pada 2023.
“Catatan kami dari BMKG, kondisi El Nino pada 2026 secara umum lebih kuat dibandingkan dengan El Nino pada 2023 yang lalu,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS Pusat, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, El Nino berkaitan dengan kekeringan yang menyebabkan sejumlah wilayah mengalami kesulitan memperoleh pasokan air untuk kegiatan pertanian.
Kondisi tersebut turut memengaruhi tanaman padi karena proses budi dayanya sangat bergantung pada ketersediaan air selama masa pertumbuhan.
“Sehingga, hasil pemantauan kami menunjukkan kondisi tersebut berdampak pada pertanaman padi yang sangat bergantung pada suplai air,” tutur Ateng.
Selain berkurangnya pertanaman padi, hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA) BPS menunjukkan 25,74% lahan sedang diberakan atau dibiarkan tidak diolah setelah panen.
Sementara itu, proporsi lahan yang ditanami komoditas selain padi mencapai 34,81%, sedangkan 6,94% lainnya masih dalam tahap persiapan lahan.
Ateng mengungkapkan, proporsi lahan yang diberakan dan ditanami komoditas selain padi meningkat dibandingkan Agustus 2026 maupun September 2025. Sebagai pembanding, luas pertanaman padi pada September 2023 masih mencapai 23,10%.
“Hal ini tercermin dari penurunan standing crop atau luas pertanaman padi, yaitu sebesar 3,1 poin persentase pada September 2026 dibandingkan dengan September 2023,” ujar Ateng.
Berkurangnya tanaman padi yang masih tumbuh turut memengaruhi perkiraan panen dalam tiga bulan berikutnya. BPS memperkirakan luas panen Oktober–Desember 2026 mencapai 1,54 juta hektare, turun dari sekitar 1,87 juta hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam kesempatan lain, Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho menilau mundurnya musim hujan dapat menggeser jadwal tanam petani. Kondisi ini, lanjutnya, juga berpengaruh terhadap waktu panen.
“Tentunya ini berpengaruh pada kalender dan jadwal tanam yang otomatis mundur, dan mundurnya jadwal tanam ini tentunya juga mengakibatkan mundurnya jadwal panen,” jelss Bayu, dikutip Kamis (5/11).
Bagi Bayu, pergeseran waktu panen dapat memengaruhi ketersediaan pangan. Karenanya, stok hasil panen sebelumnya menjadi penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sampai musim panen berikutnya tiba.
Selain perubahan jadwal, Bayu mengingatkan keterbatasan air selama masa pertumbuhan dapat meningkatkan risiko gagal tanam maupun gagal panen, terutama pada komoditas yang membutuhkan banyak air seperti padi dan jagung.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Bayu mendorong penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan dan penerapan metode pertanian yang lebih hemat air. Langkah itu diperlukan agar kegiatan pertanian dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi iklim.
Bayu juga menyarankan pemanfaatan teknologi penampungan air hujan untuk menjaga ketersediaan air bagi pertanian. Adapun diversifikasi pangan diperlukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras.













