PravadaNews – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan performa impresif setelah berhasil bangkit dan menguat tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melonjak 80 poin atau 0,44 persen ke level Rp18.088 per dolar AS, berbalik arah dari perdagangan sebelumnya yang ditutup melemah tipis di posisi Rp18.168 per dolar AS.
Penguatan ini menjadi sinyal positif bagi pergerakan mata uang Garuda di tengah dinamika pasar valuta asing.
“Dari sisi teknikal, pergerakan nilai tukar rupiah cenderung menguat di tengah pelaksanaan pemilu sela di AS,” kata Analis Pasar Uang dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, Kamis (5/11/2026).
Rupiah menguat seiring indeks dolar AS yang cenderung terkoreksi.
Hari ini indeks dolar AS berad di level 101,41, turun sekitar 0,44 persen dibandingkan hari Rabu kemarin.
“Melihat indeks dolar AS yang masih cenderung terkoreksi, maka kami perkirakan rupiah berpeluang menguat. Nilai tukar rupiah terlebih dulu akan menguji area Rp18.063-Rp18.075 per dolar AS,” ujar Herditya.
Kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Sela di AS dapat menjadi katalis positif bagi rupiah.
“Dolar AS dan imbal hasil AS tertekan karena pasar mengevaluasi kembali prospek politik AS,” kata Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa.
Penguatan rupiah, menurut Jessica, masih sensitif terhadap data tenaga kerja AS dan perubahan ekspektasi kebijakan the Fed.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun, naik dua basis poin menjadi 7,74 persen.
Tetapi imbal hasil untuk tenor dua tahun turun 3 basis poin. Pada saat uang sama, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun 5 basis poin ke 4,91 persen.
“Spread obligasi pemerintah Indonesia dan imbal hasil obligasi AS menjadi melebar 7 basis poin menjadi 283 basis poin. Ini memperkuat indikasi bahwa risiko fiskal dan tekanan supply domestik masih menjadi pendorong utama tekanan pada obligasi tenor panjang,” ujar Jessica.














