PravadaNews – Kementerian Perindustrian mempercepat transformasi industri semen nasional menuju sektor rendah emisi melalui strategi dekarbonisasi berbasis lima pilar utama yang ditargetkan menjadi fondasi menuju netral karbon.
Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menyebut industri semen global kini menghadapi tekanan besar dari tiga tren utama: urbanisasi, dekarbonisasi, dan digitalisasi.
“Industri semen global saat ini sedang bernavigasi di lingkungan bisnis yang kompleks, yang dibentuk oleh tiga pengaruh besar yaitu urbanisasi, dekarbonisasi, dan digitalisasi,” kata Emmy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Emmy menjelaskan lima pilar dekarbonisasi tersebut meliputi efisiensi energi dan material, substitusi bahan bakar dengan biomassa dan hidrogen, pembaruan teknologi produksi, elektrifikasi serta energi terbarukan, dan pemanfaatan teknologi penangkapan emisi karbon.
Menurut Emmy, kebijakan ini tidak hanya menekan emisi, tetapi juga menjaga daya saing industri semen di tengah tingginya kebutuhan pembangunan infrastruktur nasional.
“Industri semen dan barang galian nonlogam memiliki peran vital dalam pembangunan infrastruktur, mendorong investasi, menciptakan lapangan kerja, serta memacu pertumbuhan manufaktur,” tutur Emmy.
Adapun Kemenperin mencatat sektor ini tumbuh 6,16 persen pada 2025 dengan investasi mencapai Rp25 triliun, ekspor 1,79 miliar dolar AS, serta penyerapan lebih dari 900 ribu tenaga kerja.
Dengan kapasitas terpasang 121,66 juta ton per tahun, kata Emmy, Indonesia disebut tetap menjadi salah satu produsen semen terbesar di Asia Tenggara, sekaligus mampu memenuhi kebutuhan domestik yang diproyeksikan 64 juta ton pada 2025.
“Ekspor semen dan klinker juga tercatat mencapai 443 juta dolar AS, naik 18,25 persen secara tahunan, dengan pasar utama Bangladesh, Australia, Taiwan, Filipina, dan Sri Lanka,” ungkap Emmy.
Dalam peta jalan dekarbonisasi, emisi spesifik industri semen turun dari 724 kilogram CO2 per ton pada baseline 2010 menjadi 566,3 kilogram CO2 per ton cement equivalent, atau turun sekitar 21,8 persen.
Clinker factor juga ditekan dari 81 persen menjadi 68,1 persen, sementara thermal substitution rate (TSR) naik menjadi 12,58 persen, melampaui target 2025.















