PravadaNews – Kementerian Intelijen Iran menyatakan, musuh melakukan tekanan ekonomi, serang siber, terorisme, dan perang psikologi setelah gagal dalam agresi militer.
Pernyataan itu disampaikan Kementerian Intelijen Iran dalam rilisnya pada Rabu (27/5/2026).
“Musuh, yang kalah dalam perang militer, berusaha untuk menghasilkan prestasi bagi dirinya sendiri, bahkan melalui perang lunak,” kata pernyataan itu, melansir Press TV, dikutip Kamis (27/5/2026).
Baca Juga: Iran Tak Akan Maafkan AS
Kementerian Intelijen Iran mengatakan, musuh ingin agar Iran terpecah belah, namun rencana tersebut gagal total.
AS dan Israel memulai perang agresi terhadap Iran pada 28 Februari, sekitar delapan bulan setelah mereka melakukan serangan tanpa provokasi terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Iran pun membalas serangan tersebut dengan melancarkan rentetan rudal dan serangan pesawat tak berawak ke wilayah yang diduduki Israel serta ke pangkalan dan kepentingan AS di negara-negara regional.
Menurut kementerian, musuh kini lebih memfokuskan perhatian pada “konspirasi perang lunak, kognitif, dan hibrida” yang bertujuan untuk melemahkan negara.
Pernyataan tersebut menguraikan beberapa area prioritas aktivitas permusuhan musuh, seperti meningkatkan tekanan ekonomi dan mengeksploitasi inflasi dan kekurangan untuk memprovokasi keresahan sosial melalui “agen musuh dan media bayaran berbahasa Persia asing.”
Kementerian juga memperingatkan terhadap upaya untuk memicu ketegangan etnis dan agama guna melemahkan persatuan nasional di antara kelompok etnis Iran dan agama-agama yang diakui secara resmi.
Disebutkan bahwa “kelompok teroris yang didukung Zionis” dikerahkan untuk operasi sabotase dan serangan perbatasan, khususnya di wilayah barat laut dan tenggara Iran.
Kelompok-kelompok tersebut, katanya, sebelumnya telah mencoba serangan darat terkoordinasi selama perang baru-baru ini tetapi berhasil dipukul mundur oleh Angkatan Bersenjata Iran setelah operasi intelijen mengungkap posisi mereka.
Pernyataan tersebut menyebutkan rencana pembunuhan, operasi sabotase, penyelundupan senjata, serangan siber, dan perdagangan alat komunikasi ilegal seperti Starlink sebagai ancaman utama.
Kementerian Intelijen Iran juga mengecam media berbahasa Persia asing, termasuk BBC Persian, Voice of America, dan Iran International, karena mendukung operasi permusuhan terhadap negara tersebut.















