PravadaNews – Pergerakan harga komoditas beras di sejumlah pasar tradisional terus mengalami tren kenaikan pada minggu pertama bulan September ini.
Kondisi fluktuasi harga kebutuhan pokok tersebut perlahan memberikan tekanan tambahan bagi stabilitas keuangan keluarga berpenghasilan menengah ke bawah.
Menghadapi situasi pasar yang tidak menentu, salah satu konsumen di wilayah Beji, Depok mulai mengeluhkan lonjakan biaya belanja harian.
Ibu Rumah Tangga (IRT), Encun, mengaku terkejut saat mengetahui harga beras jenis Petruk kini mencapai Rp13.500 per liter. Beras varietas Petruk yang dikenal sebagai beras kategori medium untuk konsumsi harian masyarakat itu mengalami kenaikan sebesar Rp500.
“Walau naiknya cuman gope (500 perak) saya tetap merasa keberatan karena harus mengurangi jatah uang lauk pauk,” ucap Encun saat berbincang, Minggu (13/9/2026).
Karena itu, Encun berharap pemerintah segera menurunkan kembali harga bahan pangan pokok tersebut.
Keresahan para pembeli turut dibenarkan oleh seorang pedagang beras di Pasar Kemiri Depok yang melihat langsung tren peningkatan sejumlah jenis beras dalam beberapa waktu terakhir.
“Iya naik, harga barang semua naik,” tutur pedagang beras yang enggan disebutkan namanya saat ditemui PravadaNews, Selasa (8/9).
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, beras Ramos Cianjur kini dijual Rp13.000 per liter dan Jeruk Garut mencapai Rp14.000 per liter.
Lebih lanjut, komoditas Pandan Wangi tercatat menembus Rp15.000 per liter sedangkan varietas Ketan Solo melonjak hingga Rp21.000 per liter.
Menanggapi fenomena kenaikan harga tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan kondisi ini murni dipicu oleh musim kemarau.
Musim kemarau panjang yang mengakibatkan masa paceklik tersebut secara otomatis membuat harga beras di pasaran mengalami lonjakan secara bertahap.
Pria yang akrab disapa Zulhas itu memastikan pemerintah akan segera menambah pasokan beras subsidi medium sebanyak satu juta ton guna merespons lonjakan.















