PravadaNews – Penanganan darurat menjadi prioritas utama pascakecelakaan kereta di Bekasi Timur, Jawa Barat. CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani menegaskan, fokus saat ini bukan lagi pada spekulasi penyebab, melainkan memastikan korban tertangani cepat dan proses evakuasi berjalan tanpa hambatan.
“Kami menyampaikan duka dan keprihatinan yang mendalam atas insiden yang terjadi di wilayah Stasiun Bekasi Timur. Simpati sebesar besarnya kepada seluruh penumpang, keluarga, serta petugas yang terdampak,” ujar Rosan, Selasa (28/4/2026).
Baca juga: 1.800 Perlintasan KA akan Dibenahi
Di tengah tekanan publik, koordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia disebut terus diperkuat. Langkah ini dinilai krusial untuk mempercepat evakuasi sekaligus memastikan penanganan korban berjalan efektif di lapangan.
“Saat ini, kami tengah mengarahkan dan berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) berfokus pada proses evakuasi dan penanganan di lapangan dengan mengutamakan pertolongan pertama,” tambah Rosan.
Sementara itu, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin mengungkapkan, indikasi awal adanya insiden di perlintasan yang berdampak pada sistem operasional.
“Kejadian ini di jam 9 kurang, dimulai dengan adanya temperan taksi hijau, di JPL 85. Ini yang kami curigai membuat sistem perkeretaapian di daerah emplasemen Stasiun Bekasi Timur ini agak terganggu, sementara itu kronologinya,” ujar Bobby.
Meski demikian, penentuan penyebab pasti kecelakaan diserahkan sepenuhnya kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk investigasi lebih lanjut.
“Tentunya kami menyerahkan kepada KNKT untuk lebih detail mencari tahu penyebab dari kecelakaan kereta ini,” sambung Bobby.
Seperti diketahui, insiden yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line rute Jakarta–Cikarang itu terjadi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4) pukul 20.52 WIB. Situasi semakin kompleks karena diduga ada gangguan awal yang memicu rangkaian kejadian berikutnya.














