PravadaNews – Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini, menilai pelemahan pasar keuangan menunjukkan krisis kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Masalah tersebut tidak hanya terlihat dari tekanan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga dari persepsi pasar terhadap kredibilitas fiskal.
Didik menggambarkan tekanan pasar modal sudah bergerak dalam setelah indeks disebut turun dari kisaran 9.200 menuju 5.900. Dalam pembacaan itu, pelemahan saham perbankan dan keluarnya investor asing menunjukkan pasar sedang mengurangi eksposur terhadap risiko Indonesia.
“Sekarang kita menyaksikan bahwa trust sudah jauh lebih penting dan lebih mendasar daripada angka. Angka-angka pertumbuhan kita tidak terlalu buruk, begitu juga angka indikator perdagangan, tetapi karena kepercayaan jatuh, maka investor pergi,” kata Didik kepada PravadaNews, Minggu (7/6/2026).
Menurut Didik, Bank Indonesia (BI) sudah mengguyur pasar dan memakai cadangan devisa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, langkah moneter tersebut tetap membutuhkan dukungan kebijakan fiskal yang hati-hati, kepastian hukum, dan komunikasi pemerintah yang kredibel.
“Pasar akan percaya jika pengelolaan APBN terukur, terkendali dan prosesnya dijalankan dengan baik dan sahih di parlemen, penerimaan kredibel dan defisit terukur,” ujar Didik.
Didik juga menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan, independensi lembaga negara, serta perlindungan terhadap investasi dan hak privat. Jika keraguan terhadap aspek tersebut membesar, premi risiko Indonesia dapat naik dan investor memilih keluar dari pasar keuangan domestik.
Sementara itu, pemerintah menyatakan fundamental ekonomi nasional masih kuat dan pengelolaan fiskal tetap berada pada jalur aman. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus digunakan sebagai peredam gejolak global sekaligus penggerak aktivitas ekonomi.
Purbaya menyampaikan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga, peningkatan investasi, dan percepatan belanja pemerintah dengan inflasi terkendali pada 3,08 persen.
“Pertumbuhan ekonomi cepat bukan karena kita mengorbankan fiskal. Tapi karena kita di bawah pimpinan Bapak Presiden bisa memastikan seluruh belanja fiskal dijalankan dengan efisien dan efektif, sehingga dengan uang yang sama pertumbuhan ekonomi kita akan lebih cepat,” jelas Purbaya dalam konferensi pers APBNKita Edisi Juni 2026, di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6) lalu.
Dari sisi anggaran, defisit APBN hingga akhir Mei 2026 tercatat Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, keseimbangan primer masih surplus Rp58,6 triliun sehingga posisi fiskal dinilai tetap sehat dan terkelola.
Lebih lanjut, penerimaan negara terlihat mencapai Rp1.185 triliun, sementara belanja negara terealisasi Rp1.365,4 triliun hingga akhir Mei 2026. Dengan kondisi tersebut, penguatan kepercayaan investor menjadi titik yang dipantau pasar di tengah kebutuhan menjaga disiplin fiskal dan konsistensi kebijakan.















