PravadaNews – Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) tidak mengutuk serangan agresif dan ilegal AS terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Darkhovin, yang saat ini masih dalam tahap pembangunan di provinsi Khuzestan, Iran barat daya.
Dalam sebuah unggahan di akun X-nya pada Minggu (19/7/2026), IAEA menyatakan, “IAEA sedang meninjau laporan mengenai serangan yang terjadi semalam di lokasi pembangunan PLTN yang direncanakan di Darkhovin, Iran. Fasilitas tersebut masih berada pada tahap awal pembangunan dan tidak memuat bahan nuklir apa pun saat terakhir kali dikunjungi oleh IAEA,” tulis unggahan IAEA melansir Kantor Berita IRNA, Senin (20/7/2026).
“Meskipun serangan yang dilaporkan tersebut diyakini tidak menimbulkan risiko radiologis apa pun, [Direktur Jenderal IAEA] Rafael Grossi kembali menyerukan pengendalian diri militer di sekitar semua lokasi yang terkait dengan nuklir. IAEA telah menghubungi Iran terkait laporan publik tersebut dan akan memberikan informasi lebih lanjut begitu informasi tersedia,” tambah IAEA.
Dalam sebuah pernyataan pada hari yang sama, Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) mengecam keras serangan AS terhadap PLTN Darkhovin, seraya menyatakan, “Rezim AS yang teroris dan kriminal—yang wataknya tak lain adalah penindasan dan pelanggaran hukum—melakukan tindakan agresif dan brutal yang melanggar hukum internasional dengan menyerang pembangkit listrik tersebut sekitar pukul 03.39 pagi waktu setempat.”
Menyebut PLTN Darkhovin sebagai “salah satu simbol martabat dan kemandirian ilmiah bangsa Iran,” pernyataan tersebut mencatat bahwa beberapa proyektil digunakan oleh musuh untuk menyasar lokasi yang sedang dibangun itu.
AS telah melancarkan serangkaian serangan terhadap fasilitas nuklir damai Iran—yang berada di bawah pengawasan internasional—selama setahun terakhir, sebagai bagian dari perang ilegal dan tanpa provokasi yang diluncurkan Washington bersama rezim Israel.
Pernyataan terbaru AEOI ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut, menyusul kembali dimulainya perang agresi AS yang melanggar nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara bulan lalu untuk mengakhiri perang di semua lini.
Agresi yang kembali terjadi ini mendorong Iran untuk melakukan serangan balasan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang menyasar fasilitas serta pangkalan militer AS di beberapa negara kawasan.















