PravadaNews — Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menjawab kepercayaan yang diberikan kepada mereka di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Dipilih untuk tampil pada menit-menit terakhir, pasangan ganda putra Indonesia itu justru mampu mempersembahkan medali emas ketiga untuk Merah Putih.
Bagi Leo, pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Leo berharap medali emas Asian Games dapat menjadi modal bagi dirinya dan Daniel untuk berkembang lebih baik.
“Alhamdulillah hari ini bisa menyumbangkan medali emas yang ketiga untuk Indonesia. Yang pasti bisa jadi modal kita berdua bisa lebih baik lagi,” kata Leo, dikutip Rabu (30/9/2026).
Daniel juga merasakan hal serupa karena kesempatan tampil di Asian Games 2026 datang dalam situasi yang tidak mudah. Daniel bersama Leo kemudian berusaha membayar kepercayaan pengurus dan pelatih dengan tampil maksimal.
“Yang pasti jadi motivasi kami sudah dipilih di menit-menit terakhir. Kami ingin memaksimalkan kesempatan dari pengurus dan pelatih telah memilih kami dan puji Tuhan, kami bisa memaksimalkan kesempatan,” ujar Daniel.
Dalam pertandingan, komunikasi menjadi salah satu faktor penting bagi Leo/Daniel. Keduanya terus berkomunikasi untuk membaca situasi pertandingan dan menjaga kesepakatan selama berada di lapangan.
“Kuncinya yang pasti kita saling komunikasi. Kita berdua, pelatih yang di belakang support terus kita, jadi kita harus komunikasi, jalannya pertandingan itu gimana, jangan sampai beda komitmen aja di tengah lapangan,” kata Leo.
Dukungan dari tim pelatih juga menjadi bagian dari perjalanan Leo/Daniel meraih emas. Kabid Binpres PP PBSI Eng Hian mengatakan perubahan strategi teknis dilakukan untuk memberikan arahan kepada keduanya selama pertandingan.
“Tentunya perubahan strategi teknis itu kita lakukan untuk memberikan arahan dan instruksi ke Leo dan Daniel,” ujar Eng Hian.
Menurut Eng Hian, keberhasilan Leo/Daniel juga menjadi bagian dari proses regenerasi yang sedang dijalankan PBSI. Program tersebut disebut sebagai salah satu fokus utama kepengurusan PBSI saat ini.
Eng Hian mengatakan perkembangan program regenerasi mulai terlihat setelah berjalan sekitar satu tahun sembilan bulan. Ia menyebut pencapaian di Asian Games menjadi salah satu gambaran dari proses tersebut.
“Seperti yang disampaikan oleh ketua umum, program utama di kepengurusan ini kan proses regenerasi. Sehingga paling tidak dari waktu satu tahun sembilan bulan ini, kita sudah melihat ada progres,” kata Eng Hian.
Eng Hian menyadari proses regenerasi tersebut belum tentu langsung memenuhi seluruh ekspektasi masyarakat. Namun, hasil yang diraih Leo/Daniel di Asian Games menjadi salah satu indikator perkembangan program regenerasi PBSI.
“Tentu tidak bisa memuaskan ekspektasi semua masyarakat. Tapi dari hasil pencapaian hari ini, kita sudah bisa melihat apa yang dilakukan oleh PBSI sudah cukup melakukan program regenerasi,” ujar Eng Hian.
Setelah meraih emas Asian Games, Leo/Daniel tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Agenda kompetisi mereka kembali menanti melalui rangkaian tur BWF di Eropa selama sekitar tiga pekan.
Leo mengatakan mereka hanya akan mengambil waktu istirahat selama satu hingga dua hari. Setelah itu, keduanya harus kembali menjalani latihan untuk mempersiapkan pertandingan berikutnya.
“Kita rencana istirahat satu-dua hari, dan kemudian harus latihan lagi,” ujar Leo.
Leo menyadari perjalanan mereka masih panjang setelah Asian Games. Karena itu, dirinya dan Daniel akan berusaha meningkatkan intensitas latihan sekaligus menjaga konsistensi permainan.
“Pertandingan ke depan untuk badminton masih banyak, jadi tur BWF-nya. Untuk menuju yang lebih baik lagi, pastinya kita harus latihan lebih giat lagi, harus menjaga konsisten,” kata Leo.















