PravadaNews – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai industri pengelolaan investasi di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan besar, seiring dana kelolaan atau asset under management (AUM) yang baru mencapai 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK Maulana mengatakan nilai AUM per Maret 2026 tercatat sebesar Rp1.084 triliun, naik 3,97 persen dibanding akhir 2025. Namun, angka tersebut dinilai masih rendah dibanding ukuran ekonomi nasional.
“Kelihatannya gede ya Rp1.084 triliun, tapi ternyata dari sisi GDP ini baru empat persen,” kata Maulana dikutip Selasa (21/4) 2026).
Baca juga : OJK Minta BNI Selesaikan Kasus Nasabah di Cabang Aek Nabara
Maulana membandingkan capaian Indonesia dengan negara tetangga di kawasan ASEAN, yang menurutnya sudah jauh lebih tinggi. Malaysia, kata dia, mencapai 36 persen dari PDB, sementara Thailand sekitar 30 persen.
“Kalau kita bandingkan negara tetangga, Thailand tuh 30 persen, Malaysia 36 persen. Ini masih banyak yang bisa dikejar,” ujar Maulana.
Di sisi lain, Maulana menyoroti pertumbuhan jumlah investor reksa dana yang meningkat menjadi 23,5 juta per Maret 2026, dari 19,2 juta pada akhir 2025. Ia menyebut kenaikan 8,14 persen secara year to date itu menunjukkan minat masyarakat yang terus tumbuh.
Menariknya, lebih dari separuh investor reksa dana berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
“54 persen dari investor adalah usia di bawah 30 tahun. Ini kelompok usia produktif,” kata Maulana.
Jika dibandingkan dengan total penduduk usia produktif yang mencapai 196 juta orang dari 287 juta penduduk Indonesia,
Sementara itu, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Bursa Efek Indonesia Bursa Efek Indonesia Kristian Manullang menyebut dana kelolaan reksa dana telah mencapai Rp699,65 triliun per Maret 2026.
Ia menilai reksa dana menjadi salah satu instrumen investasi yang semakin diminati karena menawarkan diversifikasi portofolio dengan akses yang relatif mudah bagi investor pemula.
“Reksa dana menawarkan pengelolaan profesional dengan akses yang terjangkau,” kata Kristian.
Namun, Maulana mengingatkan bahwa pertumbuhan investor masih dibayangi rendahnya literasi dan inklusi pasar modal. Tingkat literasi tercatat 17,78 persen, sementara inklusi baru 1,34 persen.
“Semakin banyak yang tahu, tapi belum cukup banyak yang memulai investasi,” pungkas Maulana.















