PravadaNews – Penjualan telur ayam di tingkat peternak di Pengasinan, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami perlambatan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini membuat telur hasil produksi belum seluruhnya terserap pembeli dan sebagian masih menumpuk di kandang.
Peternak telur setempat, Kiki, mengatakan produksi dari kandangnya mencapai rata-rata sekitar 60 kilogram per hari. Namun, jumlah telur yang dihasilkan tidak seluruhnya langsung terjual sehingga masih ada stok yang tersisa.
“Ini aja masih numpuk mas telur karena emang harga murah jadi mintanya turun,” kata Kiki saat diwawancarai pada Sabtu (10/10/2026).
Menurut Kiki, telur yang belum terjual bahkan masih tersisa hingga dua hari. Situasi tersebut terjadi ketika pembeli meminta harga yang lebih rendah di tengah penurunan harga telur.
Kiki mengatakan perlambatan penjualan memang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, Kiki menilai penurunan tersebut belum sampai pada tingkat yang terlalu drastis.
“Iya tapi enggak sampai drastis banget,” ujar Kiki saat ditanya mengenai penurunan penjualan.
Selain menghadapi perlambatan penjualan, Kiki juga harus menyesuaikan diri dengan perubahan harga jual telur. Saat ini, telur yang dikirimnya ke warung dibanderol Rp22.500 per kilogram.
Harga tersebut turun dibandingkan sebelumnya yang masih mencapai Rp23.800 per kilogram. Dengan demikian, terdapat penurunan sebesar Rp1.300 per kilogram atau sekitar 5,46 persen dari harga sebelumnya.
Kiki menyebut harga telur di tingkat pengirimannya mulai turun sekitar dua pekan sebelum wawancara. Penurunan harga tersebut turut memengaruhi kondisi usaha karena keuntungan yang diperoleh semakin tipis.
“Ya tipis banget mas, masih dapat tapi tipis hampir seri,” kata Kiki.
Di saat yang sama, peternak juga menghadapi perubahan biaya produksi, terutama dari sisi pakan ayam. Kiki menyebut harga pakan sempat naik Rp390 ribu per karung sejak awal Agustus hingga mendekati akhir September 2026.
“Harga pakan naik Rp390 ribu per karung,” kata Kiki.
Kenaikan biaya pakan tersebut menambah tekanan ketika harga jual telur justru mengalami penurunan. Meski kegiatan produksi masih berjalan, Kiki mengaku keuntungan yang tersisa dari penjualan telur kini mendekati titik impas.















