PravadaNews – Presiden Prabowo Subianto yang berpidato dalam Rapat Paripurna DPR RI menjadi tanda ingin menjaga stabilitas ekonomi setelah dolar AS terus menguat.
Pengamat politik Citra Institute, Efriza menilai, Prabowo ingin mengambil alih narasi ekonomi ketika menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027.
“Ini adalah pesan simbolik kepada publik bahwa negara dikomandoi langsung oleh Prabowo sebagai Presiden,” kata Efriza kepada PravadaNews, Minggu (24/5/2026).
Selain itu, Prabowo ingin dikenal sebagai presiden yang dapat menyelesaikan persoalan ekonomi, setelah dolar menguat terhadap rupiah.
Baca Juga: Kebijakan DMO Minyak Goreng Siapa yang Untung?
“Prabowo ingin tampil dan dikenang bukan sekadar kepala negara, tetapi juga pemimpin pembangunan ekonomi nasional yang dikendalikan langsung oleh dirinya sebagai presiden,” ujar Efriza.
Sebagai informasi, pada pemerintahan sebelumnya, Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu).
Pada Rapur pada Rabu, 20 Mei 2026 menjadi catat sejarah, sebab Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal disampaikan langsung oleh presiden.
“Prabowo ingin menunjukkan sebagai seorang commander in chief di bidang ekonomi,” ujar Efriza.
Efriza mengatakan, Prabowo ingin menunjukan bahwa arah kebijakan ekonomi berada langsung di tangannya. “Di bawah kendali presiden,” kata Efriza.
Prabowo telah menegaskan bawah APBN bukan hanya sekadar dokumen keuangan, melainkan alat perjuangan bangsa untuk melindung rakyat. “Memperkuat fondasi ekonomi nasional,” jelas Efriza.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan dalam pidato perdananya pada Rapur DPR RI terkait arah kebijakan ekonomi pemerintah pada 2027.
Prabowo menekankan target penurunan defisit anggaran, peningkatan penerimaan negara, hingga pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen.
Pemerintah, kata Prabowo, akan menjaga defisit APBN 2027 di kisaran 1,8 hingga 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menurut Prabowo, ruang fiskal yang lebih sehat diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meningkatkan kepercayaan pasar.
“Kami akan berjuang terus untuk menekan dan memperkecil defisit ini,” ujar Prabowo di hadapan anggota dewan.
Selain menekan angka defisit, pemerintah menargetkan rasio pendapatan negara naik menjadi 11,82 sampai 12,40 persen dari PDB.
Kenaikan penerimaan akan didorong melalui optimalisasi pajak, penerimaan negara bukan pajak, serta penguatan tata kelola sumber daya alam.
Dalam pidatonya, Prabowo pun memasang target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027. Target itu disebut sebagai tahap awal menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029.
Pemerintah juga menargetkan inflasi tetap terkendali pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen. Adapun nilai tukar rupiah diproyeksikan berada di posisi Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS.
Menurut Prabowo, stabilitas kurs penting untuk menjaga daya saing ekspor sekaligus mengendalikan inflasi impor.















