PravadaNews – Tingkat penggunaan minyak sawit berkelanjutan bersertifikat di Eropa sudah tinggi, yaitu di atas 90%.
Dalam laporan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) menyebutkan, minyak sawit berkelanjutan bersertifikat diperlukan untuk membangun kesadaran dan kepercayaan konsumen.
Sehingga, permintaan dapat terus menguntungkan perusahaan dan petani kecil yang berinvestasi dalam produksi berkelanjutan.
Cat Barton dari World Association of Zoos and Aquariums (WAZA) mengingatkan pelaku pasar agar tidak menganggap pekerjaan terkait minyak sawit telah selesai.
“Jangan berasumsi bahwa pekerjaan terkait minyak sawit sudah selesai,” ujar Cat Barton dari World Association of Zood and Aquariums (WAZA) dilansir dalam Sustainable Palm Oil Dialogue (SPOD) 2026, dikutip Selasa (23/6/2026).
Dari sisi pasar, laporan Global Palm Oil Outlook 2025 dari IDH mencatat perubahan arah konsumsi minyak sawit dunia. Konsumsi Uni Eropa turun sekitar 44% pada 2019/2020 hingga 2024/2025.
Pada periode yang sama, konsumsi minyak sawit Indonesia tumbuh sekitar 39%. Perbedaan arah konsumsi itu meningkatkan risiko jarak antara pasar yang ketat terhadap standar keberlanjutan dan pasar konvensional.
Direktur Transformasi Pasar RSPO, Inke Van Der Sluijs, menyoroti ketahanan industri sawit perlu dibangun melalui strategi bisnis. Dalam keterangan resmi SPOD 2026, keberlanjutan ditempatkan sebagai bagian dari daya saing rantai pasok.
“Ketahanan berasal dari memastikan bahwa keberlanjutan tetap menjadi keharusan bisnis,” ujar Inke.
Laporan IDH juga mencatat petani kecil independen menghasilkan 35-40% minyak sawit dunia. Namun, kelompok tersebut hanya memasok sekitar 8% volume bersertifikat RSPO.
Karena itu, penguatan kepercayaan konsumen perlu berjalan bersama inklusi petani kecil dan ketertelusuran pasok. Langkah ini dibutuhkan agar pasar sawit berkelanjutan tetap memberi manfaat ekonomi bagi produsen yang memenuhi standar.















