PravadaNews – Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (21/7/2026), setelah pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya melemah 27 poin ke level Rp17.948 per dolar AS.
Pelemahan tersebut mencerminkan masih kuatnya sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, di tengah perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.
“Untuk perdagangan (21/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp 17.940-Rp 18.000,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima.
Ibrahim mengatakan, dari sisi eksternal, pergerakan rupiah masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas.
AS dan Iran saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu malam. Serangan baru tersebut terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya.
Militer AS dilaporkan memperluas sasaran serangan di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangan terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya. Pertempuran masih berfokus pada kendali Selat Hormuz.
CENTCOM menyebut operasi terbarunya bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut.
Di sisi lain, meski data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan ekonomi, pelaku pasar masih mencermati apakah kenaikan harga energi akan mempersulit upaya Federal Reserve menekan inflasi.
“Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi membuat inflasi tetap berada di atas target The Fed sehingga bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini umumnya akan menopang penguatan dolar AS,” ujarnya.
Sementara itu, dari dalam negeri pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berpotensi berada di bawah level 5 persen akibat lemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi domestik, meski investasi asing masih menunjukkan kinerja positif.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Walaupun realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen yoy, kontribusinya dinilai belum cukup untuk mengimbangi perlambatan permintaan domestik.
Ia menjelaskan, pertumbuhan investasi saat ini semakin ditopang oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang meningkat 27,5 persen yoy. Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru mengalami kontraksi 7,8 persen yoy, menjadi penurunan pertama sejak kuartal I-2021.
“Kondisi ini menunjukkan investor asing masih percaya terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam. Namun, pelaku usaha domestik masih cenderung menahan ekspansi karena permintaan yang lemah, biaya pendanaan yang tinggi, serta ketidakpastian ekonomi,” ucapnya.















