Ilustrasi mata uang Indonesia, yakni Rupiah. (Foto: Pur/PravadaNews)

Beranda / Ekonomi / Rupiah Melemah ke Rp18.071 per Dolar AS

Rupiah Melemah ke Rp18.071 per Dolar AS

PravadaNews – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut di tengah dinamika pasar keuangan global.

Pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026), rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren negatif setelah menutup perdagangan sehari sebelumnya di zona merah.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah turun 0,06 persen atau 11 poin ke level Rp18.071 per dolar AS, setelah pada Kamis (22/10) ditutup melemah 0,21 persen ke posisi Rp18.060 per dolar AS.

Pelemahan beruntun ini menjadi perhatian pelaku pasar karena pergerakan kurs rupiah turut memengaruhi biaya impor, harga barang, serta daya beli masyarakat.

“Rupiah hari ini berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya sentimen risk-off global,” sebut Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong.

Menurut Lukman, sentimen risk-off dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).

“Eskalasi konflik di Timur Tengah dan memburuknya kondisi fiskal di Prancis ikut mempengaruhi sentimen pasar,” ucap Lukman.

Namun, rupiah umumnya masih akan dipengaruhi sentimen di pasar ekuitas domestik.

Apabila pasar ekuitas domestik terus membaik, dapat mendorong penguatan rupiah.

“Rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.900-18.100 per dolar AS,” ucap Lukman.

Sementara itu, indeks dolar AS, hari ini berada di level 101,6, turun dibandingkan hari sebelumnya.

Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa mengatakan, penguatan indeks dolar AS mulai tertahan.

“Hal itu terjadi menjelang pertemuan intenal bank the Fed, bak setral Eropa dan Bank of Japan,” ucap Jessica.

Tiga bank sentral tersebut, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga disertai dengan sikap sikap hawkish (ketat).

Jessica juga mengatakan, menyempitnya perbedaan arah kebijakan moneter berpotensi membatasi penguatan dolar AS.

“Tetapi harga minyak dan ketidakpastian global masih tinggi. Hal tersebut bisa mendorong permintaan aset ‘safe haven’, dan menekan mata uang negara berkembang,” ujar Jessica.

Tag:

Sign Up For Daily Newsletter

Stay updated with our weekly newsletter. Subscribe now to never miss an update!

I have read and agree to the terms & conditions

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *