PravadaNews – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada pembukaan perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,11 persen atau 19 poin ke level Rp18.099 per dolar AS.
Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan yang terjadi pada akhir pekan lalu, ketika rupiah ditutup melemah 0,11 persen ke posisi Rp18.080 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati dinamika nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini.
“Rupiah masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah,” ujar Analis Pasar Doo Financial Futures Lukman Leong, Senin (26/10/2026).
Ketegangan yang makin meningkat di Timur Tengah, membuat harga minyak kembali naik di atas USD100 per barel.
“Harga minyak Brent hari ini di level USD115,16 per barel, sedangkan harga minyak WTI di level USD101,67 per barel,” ucap Lukman.
Aliran keluar dana asing di pasar ekuitas, juga membebani nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data BEI aliran keluar dana asing di pasar saham hingga 23 Oktober 2026, mencapai Rp94,87 triliun.
“Nilai tukar rupiah hari ini diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp18.050-Rp18.150 per dolar AS,” ucap Lukman.
Sementara itu, indeks dolar AS berada di posisi 101,63 turun 0,18 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Konflik Timur Tengah masih akan menjadi perhatian pasar, karena kekhawatiran akan terganggunya pasokan.
Pasokan energi yang terganggu, akan memicu kenaikan kembali harga minyak minyak dunia.
Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan bank sentral AS pekan ini, untuk mengetahui kebijakan suku bunganya.
Termasuk data ekonomi AS yang akan mempengaruhi kebijakan the Fed, utamanya data inflasi dari harga belanja pribadi.














