Pravadanews – Penutupan pabrik dan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menjadi persoalan yang membayangi industri padat karya di Indonesia.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyebut, terdapat empat faktor yang menjadi penyebab perusahaan bangkrut, terutama di sektor tekstil, garmen, dan sepatu.
Keempat faktor tersebut meliputi, penurunan permintaan pasar internasional, kenaikan biaya produksi, melemahnya daya beli masyarakat dalam negeri, hingga keputusan perusahaan asing menarik kegiatan produksinya dari Indonesia.
“Jadi kalau Gubernur, termasuk Gubernur KDM menyatakan akan tutup perusahaan, itu bohong. Faktanya di lapangan yang tutup perusahaan itu adalah yang upah minimumnya rendah,” ujar Said dalam konferensi pers via daring, Selasa (13/10/2026).
Lebih lanjut, Said Iqbal menjelaskan, faktor pertama yang memengaruhi penutupan pabrik adalah melemahnya permintaan dari pasar internasional. Menurut Iqbal, kondisi tersebut berdampak pada perusahaan yang memproduksi barang untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Misalnya, industri tekstil dan garmen yang memproduksi barang untuk sejumlah merek internasional, seperti Uniqlo, H&M, Victoria’s Secret, dan Ralph Lauren. Said Iqbal mengatakan, penurunan permintaan dari pasar global turut memengaruhi pesanan kepada perusahaan produsen di Indonesia.
“Penyebab pertama terjadi PHK khususnya di perusahaan tekstil, garmen, sepatu (padat karya), penyebabnya adalah turunnya pasar internasional akibat perang, daya beli turun,” kata Said Iqbal.
Faktor kedua, kata Said, adalah meningkatnya biaya produksi, terutama biaya energi industri seperti gas dan bahan bakar minyak (BBM).
Said Iqbal menilai, kenaikan biaya operasional dapat menekan keuntungan perusahaan. Dalam kondisi tersebut, membuat sebagian perusahaan melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah pekerja untuk menekan biaya tenaga kerja.
Maka dari itu, persoalan biaya produksi disebut menjadi tantangan bagi industri padat karya yang bergantung pada pesanan dan permintaan pasar.
Kemudian, faktor ketiga adalah melemahnya daya beli masyarakat dalam negeri. Said Iqbal mengatakan, penurunan daya beli dapat mengurangi permintaan terhadap produk yang dipasarkan di Indonesia.
Kondisi tersebut dinilai semakin menekan perusahaan ketika biaya produksi meningkat, sedangkan harga jual produk tidak dapat dinaikkan secara sebanding.
“Sehingga untuk membeli barang juga menurun dan ongkos produksi lebih besar daripada harga barang yang dijual. Keuntungannya sedikit,” jelas Said Iqbal.
Adapun faktor keempat adalah keputusan perusahaan asing untuk menarik kegiatan produksinya dari Indonesia dan kembali ke negara asal.
Salah satu contoh yang disebutkan Said Iqbal, yakni perusahaan asal Jepang dan Korea Selatan yang telah menarik kegiatan produksi dari Indonesia. Ia turut menyinggung perusahaan elektronik Sanken sebagai salah satu contoh yang disampaikannya.
Said Iqbal mengatakan, keputusan tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat persoalan penutupan pabrik dan PHK di Indonesia.
Berdasarkan catatan KSPI hingga Juni 2026, Said mengatakan, sejumlah pabrik yang tutup justru berada di daerah dengan upah minimum relatif rendah, termasuk di Jawa Tengah serta Majalengka dan Sumedang di Jawa Barat.
Karena itu, ia membantah anggapan bahwa kenaikan upah minimum secara langsung menjadi penyebab utama perusahaan tutup.
Maka dari itu, Said Iqbal berharap dukungan pemerintah dapat memperkuat ekosistem industri sekaligus dalat menjaga keberlangsungan usaha serta lapangan kerja.















