PravadaNews – Maraknya penipuan digital yang terus berkembang dengan berbagai modus telah mendorong Singapura memperkuat sistem tanggap darurat untuk melindungi masyarakat dari kerugian finansial.
Pemerintah setempat menerapkan pendekatan yang lebih cepat dan terintegrasi melalui mekanisme pelaporan instan, pemutusan akses terhadap rekening maupun layanan yang terindikasi digunakan pelaku, serta pengawasan transaksi keuangan secara lebih ketat.
Langkah tersebut dirancang agar respons terhadap laporan penipuan dapat dilakukan dalam hitungan waktu yang singkat, sehingga peluang pelaku memindahkan dana hasil kejahatan dapat ditekan sekaligus meningkatkan efektivitas perlindungan bagi warga di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber.
Assistant Commissioner of Police (AC) dan perwakilan Singapore Police Force (SPF) Aileen Yap menyebut, strategi anti-penipuan bertumpu pada lima pilar. Pilar itu mencakup pemangku kepentingan, kebijakan, penegakan hukum, edukasi, dan disrupsi.
Adapun Aileen menjelaskan, disrupsi menyasar rekening bank, sambungan telepon, media sosial, dan situs.
“Strategi disrupsi kami adalah menolak akses ke infrastruktur kritikal,” ujar Aileen melalui zoom pada forum Cikini, Senin (6/7/2026).
Setelah itu, SPF memperkuat ScamShield sebagai kanal pemeriksaan awal masyarakat. Nomor bantuan juga dibuat ringkas menjadi 1799 setelah laporan dugaan penipuan meningkat.
Di sisi lain, ScamShield diperluas lewat laman dan aplikasi untuk mengecek nomor telepon, pesan, serta konten mencurigakan. “Kita harus berusaha menjangkau masyarakat dan mengajarkan mereka mengenai penipuan,” kata Aileen.
Kemudian, penegakan hukum diarahkan kepada individu, jaringan rekening, dan sindikat lintas negara. Operasi bersama dilakukan dengan China, Hong Kong, Kamboja, dan Malaysia.
Sementara itu, Executive Director and Head of Group Financial Crime Compliance Anti-Fraud Risk & Oversight OCBC, Royston Soon menjelaskan, peran bank dalam sistem anti-penipuan. Royston menyebut bank bekerja dekat dengan regulator, polisi, dan pusat anti-penipuan.
Royston menilai kerja sama antarbank diperlukan karena pelaku dapat berpindah kanal transaksi.
“Bank memang bersaing dalam banyak perusahaan, produk, dan inovasi, tetapi ketika berhubungan dengan penipuan, bank tidak bersaing,” ujar Royston.
Pada tahap berikutnya, OCBC membantu polisi menghentikan rekening mencurigakan melalui tim yang beroperasi sepanjang hari. Sebagian besar penghentian rekening dilakukan kurang dari satu jam.
Melalui skema tersebut, bank dan polisi memantau transaksi, mengirim peringatan, serta memeriksa pola rekening mencurigakan. Royston menyebut inisiatif itu mencegah lebih dari 3 ribu nasabah kehilangan potensi dana di atas 100 juta dolar Singapura.















